Jumat, 27 November 2015

Manusida dan Kesusastraan, B. Hubungan Antara Manusia dengan Sastra



MANUSIA DAN KESUSASTRAAN

    B. HUBUNGAN ANTARA MANUSIA DENGAN SASTRA

Misalnya cirri kebudayaan itu kita letakkan pada sastra dan kita kaitkan pula dengan masyarakat yag menggunakan sastra itu, maka kita dapat mengatakan bahwa nilai suatu sastra itu pada umumnya teretak pada masyarakatnya sendiri. Kesustraan itu pada dasarnya bukan saja mempunyai fungsi dalam masyarakat itu sendiri untuk  mengahadapi apa yang terjadi antara manusia dengan sastra yang ada. Kesuastraan juga mencerminkan dan menyatakan segi-segi yang kadang kuraang jelas terlihat dalam masyarakat. Maksudnya kurang jelas adalah cara mayarakat itu sendiri untuk menghadapi apa yang terjadi diantara manusia atau masyarakat dengan sastra yang ada. Hubungannya adalah karena antara manusia dengan sastra adalah suatu kebudayaan yang mencerminkan budayanya tersebut. Mengapa kita harus menganggapnya dari bagian budaya karena Sastra merupakan seni berbahasa. Yang dimaksud seni dalam seni berbahasa adalah ungkapan yang secara spontan dari perasaan yang mendalam. Sastra adalah ekspresi pikiran yang merupakan gagasan pandangan, ide, perasaan serta pemikiran dalam bahasa.

Sastra merupakan inspirasi kehidupan yang memuat perasaan kemanusiaan yang mendalam dan kebenaran moral dengan sentuhan kesucian, keluasan pandangan, dan bentuk yang mempesona. Kesuastraan sesungguhnya terkait dengan seluruh aspek kehidupan, sehingga terkaitlah judul dalam materi ini, yaiti “Hubungan Antara Manusia Dengan Sastra”. Hanya saja karena sastra memiliki pemakaran yang Nampak semu menjadikan pemaparannya menempuh rekaan imajinasi yang terlalu tinggi. Tetapi, dalam kesemuan itu, sastra merefleksikan fenomena hidup beragam dan juga mendalam, mengikuti cipta rasa karsa penulisannya. Untuk itu memang diperlukan kesiapan seperti, apresiasi, interpretasidan juga analisis. Sehingga dengan itu terwujudah jenis kesuastraan yang rekaan imajinasinya terlihat lebih jelas kaitannya dengan seluruh aspek kehidupan. Seiring berjalannya proses tersebut juga menjadikan kita untuk berekreasi dalam menciptakan karya sastra itu sendiri. Sesungguhnya jika kita lebih mendalami arti sastra dalam kehidupan, maka aan tercipta bangsa yang lebih mengenal jati diri bangsanya sendiri, yakni Indonesia. Tetapi belakangan kali ini kenyataan justru berbeda Bangsa Indonesia justru malah seperti kehilangan jati diri atau kehilangan sastranya, karena banyaknya masyarakat yang tidak perduli atau mengacuhkan nilai sastra dalam kehidupan sebagai huungan diantaranya.
Boulton (lewat Aminuddin,20/12/03) mengungkapkan bahwa karya satra menyajikan nilai-nilai keindahan serta paparan peristiwa yang mampu memberika kepuasan batin pembacanya. Di samping itu, sastra mengandung pandangan yang berhubungan dengan renungan dan kontemplasi batin, dari masalah agama, filsafat, politik, maupun masalah hidup lainnya. Kandungan makna yang kompleks, dan keindahan dalam karya sastra tergambar lewat media kebahasan atau aspek verbal. Berdasarkan uraian tersebut dpat dikemukakan bahwa karya sastra mengandung berbagai unsur yang kompleks, yaitu:
1.      Unsur keindahan
2.      Unsur kontempalif
3.      Unsur-unsur interinsik yang menandai eksistensi karya sastra
4.      Media pemaranya

Selain itu dalam sastra itu sendiri, sekarang sangat amat popular dengan “bahasa gaul”. Sebelum itu kita tahu bahwa sastra adalahbahasa yang indah dan sopan. Tetapi era kini semua orang dalam bermasyarakat lebih sering menggunakan bahasa gaul tersebut salam salah satu pembicaraannya. Jika terus berlanjut, bahasa kita akan terancam punah. Bisa kita ambil sebagai contoh akibat dari hilangnya kebudayaan sastra yaitu tawuran. Tawuyran terjadi biasanya karna hal-hal untuk pembelaan masing-masing dari kubuh itu sendiri. Terjadi karena tidak bisa saling menghargai, awalnya bercanda tetapi berakhir dengan hal yang kita tidak ininkan. Tawuran biasanya terjadi juga karena kesalahan atau konflik salahnya pembicaraan yang tidak pernah selesai, kedua belah pihak yang tidak bisa berbicara baik-baik, sopan, dan santun untuk menyelesaikan apa masalahnya. Banyak kata-kata yang tidak sepantasnya dan amarah yang tidak bisa dikendalikan keluar dari mulut mereka dan akhirnya berujung dengan terancamnya nyawa seseorang.

Peran kita untuk  menjaga bahasa satra bangsa kita bisa dengan banyak hal. Misalnya, dari pemerintah dan juga dari masyarakat itu sendiri. Pemerintah harus lebih memperkenalkan dan mempromosikan kebudayaan-kebudayaan bangsa Indonesia ke Negara-negara yang lain. Bisa lewat iklan, media televise, media radio atau media cetak atau langsung. Membuat pameran-pameran tentang kebudayaan bangsa Indonesia lebih tepanya tentang sastra yang ada di Indonesia. Lalu bisa dengan cara membuat pagelaran kebudayan dalam maupun luar negri. Membiasakan diri kepada masyarakat untuk selalu menggunakan bahasa Indonesia yang benar dalam keseharian. Mengahrgai satu sama lain karena kita sau tanah air. Dan tidak merasa malu dengan apa yang bangsa Indonesia miliki dengan cara mengikuti zaman era masa kini lalu melupakan jati diri suatu bangsa.

Karena hubungan antara manusia dengan sastra dalam bangsa Indonesia sagatlah penting. Sangat erat hubungannya dengan keseharian dalam hidup seharusnya kita malu jika kita termasuk dalam bagian masyarakat yang hanya ingin menikuti zaman tanpa mengenali bangsa kita agar mendunia. Sebenarnya sastra adalah “Sesuatunya Indonesia”. Sesuatu yang dimaksud adalah cirri yang seharusnya menjadi kebanggan tersendiri.tetapi mucullah kekinian sastra. Kekinian sastra Indonesia sendiri belum habis didedah. Andai kekinian itu dapat dimanfaatkan dalam suatu momen yang diam dan tak bergerak. Dan andai saja masa kini bukan berate dapat menjakal pada lingkaran kekinian. Kekinian menjadi proses pembelajaran pada satra makin sempit, maka makin tak terkenal atau makin terabaikan.

Maka sebenarnya, karya sastra sangat bermanfaat bagi kehidupan pribadi maupun  bermasyarakat. Karena karya satra merupakan upaya memberikan kesadaran kepada pembaca tentang kebenaran-kebenaran hidup, walaupun dilukis dalam bentuk fiksi. Karya sastra dapat memberikan kedamaian , kegembiraan, dan kepuasan batin. Karya satra juga dapat dijadikan sebagai pengalaman berkarya, karena siapapun bisa atau dapat menuangkan isi hati serta pikiran dalam sebuah tulisan yang bernilai seni dari sastra tersebut. Dengan ini, maka menjadikan masyarakat atau siapapun jadi lebih berkembang pola pemikirannya.  Mulai dari ia akan membuat seni-seni atau hal yang bersangkutan dengan karya sastra.  Lalu dapat meluaskannya dan dapat mengkritik dari luar, menerima konsep positif atau negatif yang ia sendri terima.

Setelah mengetahui apa yang dimaksud dengan karya sastra, tidak ada salahnya kita mengetahui uga tentang genre(jenis) dalam karya satra itu sendiri. Karya satra dapat digolongkan ke dalam dua kelompok, yakni karya satra imajinatif dan karya satra non imajinatif. Cirri karya satra yang imajinatif adalah karya sastra yang lebih meonjolkan sifat kyayal, megikuti syarat estetika seni dan menggunakan bahasa yang konokatif. Sedangkan cirri kaya satra imajinatif adalah karya sastra tersebu lebih banyak unsur faktanya dari pada khayalnya, lalu cenderung menggunakan bahasa denotative, dan tetap memenuhi syarat estetika seni. Jadi, pengertiannya adalah karya satra merupakan bentuk upaya manusia untuk mengungkapkan gagasan-gagasannya melalui bahasa yang lahir dari perasaa dan pemikirannya. Dari sini kita bisa realisasikan bahwa hubungan anatara manusia dengan sastra itu erat sekali hubungannya untuk keseharian dan masa depan jati diri duatu Bangsa Indonesia tepatnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar