MANUSIA DAN KESUSASTRAAN
B. HUBUNGAN
ANTARA MANUSIA DENGAN SASTRA
Misalnya
cirri kebudayaan itu kita letakkan pada sastra dan kita kaitkan pula dengan
masyarakat yag menggunakan sastra itu, maka kita dapat mengatakan bahwa nilai
suatu sastra itu pada umumnya teretak pada masyarakatnya sendiri. Kesustraan
itu pada dasarnya bukan saja mempunyai fungsi dalam masyarakat itu sendiri
untuk mengahadapi apa yang terjadi
antara manusia dengan sastra yang ada. Kesuastraan juga mencerminkan dan
menyatakan segi-segi yang kadang kuraang jelas terlihat dalam masyarakat.
Maksudnya kurang jelas adalah cara mayarakat itu sendiri untuk menghadapi apa
yang terjadi diantara manusia atau masyarakat dengan sastra yang ada.
Hubungannya adalah karena antara manusia dengan sastra adalah suatu kebudayaan
yang mencerminkan budayanya tersebut. Mengapa kita harus menganggapnya dari
bagian budaya karena Sastra merupakan seni berbahasa. Yang dimaksud seni dalam
seni berbahasa adalah ungkapan yang secara spontan dari perasaan yang mendalam.
Sastra adalah ekspresi pikiran yang merupakan gagasan pandangan, ide, perasaan
serta pemikiran dalam bahasa.
Sastra
merupakan inspirasi kehidupan yang memuat perasaan kemanusiaan yang mendalam
dan kebenaran moral dengan sentuhan kesucian, keluasan pandangan, dan bentuk
yang mempesona. Kesuastraan sesungguhnya terkait dengan seluruh aspek
kehidupan, sehingga terkaitlah judul dalam materi ini, yaiti “Hubungan Antara
Manusia Dengan Sastra”. Hanya saja karena sastra memiliki pemakaran yang Nampak
semu menjadikan pemaparannya menempuh rekaan imajinasi yang terlalu tinggi.
Tetapi, dalam kesemuan itu, sastra merefleksikan fenomena hidup beragam dan
juga mendalam, mengikuti cipta rasa karsa penulisannya. Untuk itu memang
diperlukan kesiapan seperti, apresiasi, interpretasidan juga analisis. Sehingga
dengan itu terwujudah jenis kesuastraan yang rekaan imajinasinya terlihat lebih
jelas kaitannya dengan seluruh aspek kehidupan. Seiring berjalannya proses
tersebut juga menjadikan kita untuk berekreasi dalam menciptakan karya sastra itu
sendiri. Sesungguhnya jika kita lebih mendalami arti sastra dalam kehidupan,
maka aan tercipta bangsa yang lebih mengenal jati diri bangsanya sendiri, yakni
Indonesia. Tetapi belakangan kali ini kenyataan justru berbeda Bangsa Indonesia
justru malah seperti kehilangan jati diri atau kehilangan sastranya, karena
banyaknya masyarakat yang tidak perduli atau mengacuhkan nilai sastra dalam
kehidupan sebagai huungan diantaranya.
Boulton
(lewat Aminuddin,20/12/03) mengungkapkan bahwa karya satra menyajikan nilai-nilai
keindahan serta paparan peristiwa yang mampu memberika kepuasan batin
pembacanya. Di samping itu, sastra mengandung pandangan yang berhubungan dengan
renungan dan kontemplasi batin, dari masalah agama, filsafat, politik, maupun
masalah hidup lainnya. Kandungan makna yang kompleks, dan keindahan dalam karya
sastra tergambar lewat media kebahasan atau aspek verbal. Berdasarkan uraian tersebut
dpat dikemukakan bahwa karya sastra mengandung berbagai unsur yang kompleks,
yaitu:
1.
Unsur keindahan
2.
Unsur kontempalif
3.
Unsur-unsur interinsik yang menandai eksistensi
karya sastra
4.
Media pemaranya
Selain itu dalam sastra itu sendiri, sekarang sangat amat
popular dengan “bahasa gaul”. Sebelum itu kita tahu bahwa sastra adalahbahasa
yang indah dan sopan. Tetapi era kini semua orang dalam bermasyarakat lebih
sering menggunakan bahasa gaul tersebut salam salah satu pembicaraannya. Jika
terus berlanjut, bahasa kita akan terancam punah. Bisa kita ambil sebagai
contoh akibat dari hilangnya kebudayaan sastra yaitu tawuran. Tawuyran terjadi
biasanya karna hal-hal untuk pembelaan masing-masing dari kubuh itu sendiri.
Terjadi karena tidak bisa saling menghargai, awalnya bercanda tetapi berakhir
dengan hal yang kita tidak ininkan. Tawuran biasanya terjadi juga karena
kesalahan atau konflik salahnya pembicaraan yang tidak pernah selesai, kedua
belah pihak yang tidak bisa berbicara baik-baik, sopan, dan santun untuk
menyelesaikan apa masalahnya. Banyak kata-kata yang tidak sepantasnya dan
amarah yang tidak bisa dikendalikan keluar dari mulut mereka dan akhirnya
berujung dengan terancamnya nyawa seseorang.
Peran kita untuk menjaga bahasa satra bangsa kita bisa dengan
banyak hal. Misalnya, dari pemerintah dan juga dari masyarakat itu sendiri.
Pemerintah harus lebih memperkenalkan dan mempromosikan kebudayaan-kebudayaan
bangsa Indonesia ke Negara-negara yang lain. Bisa lewat iklan, media televise,
media radio atau media cetak atau langsung. Membuat pameran-pameran tentang
kebudayaan bangsa Indonesia lebih tepanya tentang sastra yang ada di Indonesia.
Lalu bisa dengan cara membuat pagelaran kebudayan dalam maupun luar negri.
Membiasakan diri kepada masyarakat untuk selalu menggunakan bahasa Indonesia
yang benar dalam keseharian. Mengahrgai satu sama lain karena kita sau tanah
air. Dan tidak merasa malu dengan apa yang bangsa Indonesia miliki dengan cara
mengikuti zaman era masa kini lalu melupakan jati diri suatu bangsa.
Karena hubungan antara manusia dengan sastra dalam bangsa
Indonesia sagatlah penting. Sangat erat hubungannya dengan keseharian dalam
hidup seharusnya kita malu jika kita termasuk dalam bagian masyarakat yang
hanya ingin menikuti zaman tanpa mengenali bangsa kita agar mendunia.
Sebenarnya sastra adalah “Sesuatunya Indonesia”. Sesuatu yang dimaksud adalah
cirri yang seharusnya menjadi kebanggan tersendiri.tetapi mucullah kekinian
sastra. Kekinian sastra Indonesia sendiri belum habis didedah. Andai kekinian itu
dapat dimanfaatkan dalam suatu momen yang diam dan tak bergerak. Dan andai saja
masa kini bukan berate dapat menjakal pada lingkaran kekinian. Kekinian menjadi
proses pembelajaran pada satra makin sempit, maka makin tak terkenal atau makin
terabaikan.
Maka sebenarnya, karya sastra sangat bermanfaat bagi
kehidupan pribadi maupun bermasyarakat.
Karena karya satra merupakan upaya memberikan kesadaran kepada pembaca tentang
kebenaran-kebenaran hidup, walaupun dilukis dalam bentuk fiksi. Karya sastra
dapat memberikan kedamaian , kegembiraan, dan kepuasan batin. Karya satra juga
dapat dijadikan sebagai pengalaman berkarya, karena siapapun bisa atau dapat
menuangkan isi hati serta pikiran dalam sebuah tulisan yang bernilai seni dari
sastra tersebut. Dengan ini, maka menjadikan masyarakat atau siapapun jadi
lebih berkembang pola pemikirannya.
Mulai dari ia akan membuat seni-seni atau hal yang bersangkutan dengan
karya sastra. Lalu dapat meluaskannya
dan dapat mengkritik dari luar, menerima konsep positif atau negatif yang ia
sendri terima.
Setelah mengetahui apa yang dimaksud dengan karya sastra,
tidak ada salahnya kita mengetahui uga tentang genre(jenis) dalam karya satra
itu sendiri. Karya satra dapat digolongkan ke dalam dua kelompok, yakni karya
satra imajinatif dan karya satra non imajinatif. Cirri karya satra yang
imajinatif adalah karya sastra yang lebih meonjolkan sifat kyayal, megikuti
syarat estetika seni dan menggunakan bahasa yang konokatif. Sedangkan cirri
kaya satra imajinatif adalah karya sastra tersebu lebih banyak unsur faktanya
dari pada khayalnya, lalu cenderung menggunakan bahasa denotative, dan tetap
memenuhi syarat estetika seni. Jadi, pengertiannya adalah karya satra merupakan
bentuk upaya manusia untuk mengungkapkan gagasan-gagasannya melalui bahasa yang
lahir dari perasaa dan pemikirannya. Dari sini kita bisa realisasikan bahwa
hubungan anatara manusia dengan sastra itu erat sekali hubungannya untuk
keseharian dan masa depan jati diri duatu Bangsa Indonesia tepatnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar