1.
KESUSTRAAN
Kesusastraan
berarti karangan yang indah. “sastra” (dari bahasa Sansekerta) artinya :
tulisan, karangan. Akan tetapi sekarang pengertian. Sebuah cipta sastra
yang indah, bukanlah karena bahasanya yang beralun-alun dan penuh irama. Ia
harus dilihat secara keseluruhan: temanya, amanatnya dan strukturnya. Pada
nilai-nilai yang terkandung di dalam ciptasastra itu. Maka disimpulkan “kesusastraan”
adalah merupakan pengungkapan dari fakta artistik dan imajinatif sebagai
manifestasi kehidupan manusia (dan masyarakat) melalui bahasa sebagai medium
dan punya efek yang positif terhadap kehidupan manusia (kemanusiaan). Ada beberapa bentuk kesusastraan :
1.
Puisi
2.
Cerita
rakyat (fiksi)
3.
Essay
4.
Kritik
5.
Drama
Sebuah cipta sastra yang indah,
bukanlah karena bahasanya yang beralun-alun dan penuh irama. Ia harus dilihat
secara keseluruhan: temanya, amanatnya dan strukturnya. Pada nilai-nilai yang
terkandung di dalam ciptasastra itu. Ada beberapa nilai yang harus dimiliki
oleh sebuah ciptasastra. Nilai-nilai itu adalah : Nilai-nilai estetika, nilai-nilai
moral, dan nilai-nilai yang bersifat konsepsionil. Ketiga nilai tersebut
sesungguhnya tidak dapat dipisahkan sama sekali. Sesuatu yang estetis adalah
sesuatu yang memiliki nilai-nilai moral. Tidak ada keindahan tanpa moral. Tapi
apakah moral itu? Ia bukan hanya semacam sopan santun ataupun etiket belaka. Ia
adalah nilai yang berpangkal dari nilai-nilai tentang kemanusiaan. Tentang
nilai-nilai yang baik dan buruk yang universil. Demikian juga tentang
nilai-nilai yang bersifat konsepsionil itu. Dasarnya adalah juga nilai tentang
keindahan yang sekaligus merangkum nilai tentang moral.
A.
Pentingnya Sastra
bagi Generasi Muda
Karena sastra merupakan unsur
yang sangat penting yang dapat memberikan wajah manusiawi, unsur-unsur
keindahan, keselarasan, keseimbangan, perspektif, harmoni, irama, proporsi dan
sublimasi dalam setiap gerak kehidupan manusia dalam menciptakan kebudayaan.
Dan apabila hal tersebut tercabut dari akar kehidupan manusia, manusia tidak
lebih dari hewan yang berakal. Untuk itulah sastra harus ada dan selalu harus
diberadakan. Tetapi sangat disayangkan, bangsa Indonesia justru meminggirkan
sendiri budaya yang dimilikinya. Padahal sejatinya, kita adalah bangsa
berbudaya. Dalam dunia pendidikan, sastra dianggap hafalan belaka oleh remaja
yang bersekolah atau oleh siswa serta siswi. Siswa mengenal sastra seperti
sangat terpaksa untuk membaca demi mengetahui synopsisnya. Karna mereka hanya
mengkhawatirkan nilai yang akan mereka terima atau mereka hanya takut mucul
dalam soal ujian. Maka dengan itu mereka mau menghafalnya, padahal cara itu
jelas salah. Seharusnya bukan dari siswa maupun siswi tapi dari aspek uru yang
mengajarnya sendiri yang harus diubah.
Lalu akibat bagi siswa, sastra
hanyalah aktivitas menhafal, mencatat, ujian dan selesai. Metode yang hampir
sama dari tahun ke tahun atau dari generasi ke generasi yang mendatang.
Sehingga, minat erhadap dunia sastra benar-benar terlintas di bena kebanyakan
generasi kita. Fenomena yang seperti ini justru akan memarak pada generasi
muda. Di daerah-daerah terutama didaeah pedalaman. Misalnya, dengan sifat yang
tertinggal menjadikan pengalaman lamanya tidak bisa diubah atau diluaskan dalam
sastra. Walaupun begitu, tak bisa dipungkiri itu juga melanda generasi muda di
perkotaan. Misalnya, banyak anak muda jaman sekarang menggunakan bahasa gaul
dalam bicara sehari-hari.
Malah kebanyakan yang terpentig
dimata guru sekarang ini adalah “Nilai siswa tidak jeek daam pelajaran bahasa
Indonesia”. Terkadang hal tersebut memacu siswa hanya untuk menyntek atau
sekedar dapat menjawab soal yang berhubungan dengan sastra lalu?Selesai. jawaban
yang menakjubkan, bahkan tidak dari generasimuda tetapi juga dari guru yang
justru memberikan supply untuk melakukan kerjaan yang tidak seharusnya.
Misalnya, terjadi tawuran antar pelajar. Padahal tawuran justry memacu
terjadinya kecelakaan dan harus dirawat di rumah sakit apabila kejadiannya
menjadi fatal. Sebab, ada kemungkinan kesalahan dalam mendidik dan memberikan
metode pendidikan. Yang salah satunya jelas kurangnya pengayaan terkhusus
terhadap sastra. Lalu akhirnya menyebabkan hal tawuran itu terjadi. Dan tentu
saja merugikan khalayak yang pastinya bukan sekedar meka yang melakukan juga
tetapi juga lingkungan di sekitarnya.
Lalu dengan cara apa kita
menjadikan satra bagian dari kehidupan sehari-hari. Padahal satra merupakan
asset budaya yang seperti halnya sudah dibahas. Sastra adalah kerja otak kanan
serta vitamin batin yang membuat halus sikap hidup insane yang benar-benar
dimatangkan, akan mampu menumbuhkan sikap yang lebih santun dan beradab. Tentu
lain ceritanya jika disekolah lebih mengembangkan sastra kepada siswa dan
siswinya. Contoh kecil, misalnya pengemangan berpuisi siswa serta siswi
disekolah. Selain keseimbangan olah jiwa, kepekaan terhadap lingkungan yang
memiliki unsur keindahan, siswa serta siswi akan semakin mengerti tentang
hakikat dan nilai kemanusiaan. Karna berpuisi dapat diambil dari beberapa aspek
yang ada didalamnya. Jiwa kemanusiaan akan semakin tebal, maka jiwa-jiwa
kekerasan yang ada dalam diri manusia akan tenggelam lalu hilang dengan
sendirinya. Sebab, jarang sekali puisi dan ekerasan tampil dalam tubuh kalimat
yang sama itu muncul.
Dalam aspek tertentu sebenarnya
sastra memiliki sisi yang negatif yang kita tidak tahu cara untuk menghadapinya
atau bahkan hanya menganggapnya sebelah mata saja. Terkait dengan itu, beberapa
hasil penelitian di luar negri menunjukan bahwa dengan berpuisi mampu mengatasi
stress, yang notaben peicunya lahir dari kekerasan. Juga dapat member efek
relaksasi serta mencegah penyakit jantung atau gangguan pernapasan (Hendrawan
Nadesul,Kompas 23/10/04). Maka, tak lagi bisa kita mengelak dengan mengatakan
bahwa sastra hanyalah permainan kata-kata. Kata-kata yang dibolak-balik,
diakrobatkan, diimajinasikan agar terkesan “ngeh”, indah, dan bersahajabagi
siapa saja yang membacanya. Sebab ternyata dari hasil penelitian di atas,
sastra mampu menduduki posisi sebagai terapi alternative terhadap beberapa
penyakit. Lalu masihkah ada yan menyia-nyiakan?. Lalu dengan cara apa kita
mulai bergerak?.
Sehingga, menjadi wajar bahwa di
sekolah harus ditekankan untuk terus-menerus memberika waktu yang lebih banyak
untuk mendalami serta mempelajari siswa serta siswinya dalam berpuisi, cerpen,
teater, maupun drama. Sebab , selain untuk menumpuk minat terhadap satra dan
mengembangkan imajinasi sebagai penunjang pengetahuan yang lainnya, diharapkan
juga nanti mampu melahirkan para budayawan dan sastra terkenal sebagai
pengganti dari “pendekar” sastra pilih tanding yang tidak produktif lagi karna
usia dan satu persatu telah meninggalkan kita. Hamin Jabar, Muchtar Lubis, dan
Pramudya Anata Toer. Misalnya, salah satu yang dapat dilakukan adalah dengan
mencari orang yang berpengalaman atau memberikan lowongan kepada senima
profersional yang cenderung di mata masyarakat untuk menjadi guru bahasa dan
satra Indonesia. Bukan lagi guru bahasa dan sastra Indonesia yang selalu
berbasis dan terikat kepada kurikulum pengajaran saja. Sehinggakebanyakan dari
mereka mampu mengembangkan minat sastra pada siswa-siswinya. Bisa juga dengan
memberikan waktu khusus untuk para seniman. Sastrawan muda juga sebenarnya
dapat dihasilkan lalu bisa memberikan pelajaran sastra terhadap siswa maupun
siswi lanjutannya. Nah, dengan seperti itu yang harusnya digagas dari sekarang.
Kapan lagi kita akan memulai
bahkan mampu untuk melestarikan kesuastraan yang kita iliki. Serta siapa yang
akan menggantikan generasi tua nanti. Selain itu kita juga dapat
mengapresiasikan suatu sasra dengan cara masing-masing. Apresiasi sastra
merupakan salah satu bentuj reaksis secara kinetic dan verbal seorang pembaca
terhadap suatu karya satra yang di dengar ataupun di baca. Kata apresiasi
berawal dari kata Bahasa Inggris yaitu
Appreciation yang artinya penghargaan. Apresiasi sastra berarti penghargaan
terhadap suatu karya sastra yang ada. Apresiasi satrsa berusaha menerima karya
sastra sebagai sesuatu yang layak di
terima dan diakui nilai-nilai sastranya sebagai suatu yang benar adanya.
Penghargaan terhadap suatu karya sastra dilakukan secara 5 tahap yaitu, Tahap
mengenal dan menikmati, Tahap menikmati, Tahap mengahargai, Tahap pemahaman,
Tahap pengahayatan dan Tahap aplikasi atau penerapan.
Tahap mengenal dan menikmati pada
tahap ini, kita berhadapan dengan suatu karya. Kemudian kita mengambil suatu
tindakan berupa membaca, melihat atau menonton, dan mendengarkan suatu karya
satra. Tahap mengahargai, pada tahap ini kita merasakan manfaat atau nilai
karya sastra yang telah dinikmati. Manfaat di sisni berkaitan dengan kegunaan karya sastra tersebut.
Misalnya, member kesenangan, hiburan, kepuasan, serta memperluas wawasan dan pandangan
hidupan sastra. Tahap pemahaman, pada tahap ini kita melakukan tindakan
meneliti serta menganalisis unsur-unsur yang membangun karya sastra, baik unsur
interinsik maupun ekstrinsiknya. Akhirnya kita dapat menyimpulkan karya sastra
tersebut. Tahap penghayatan pada tahap ini kita membuat analisis lebih lanjut
dari tahap sebelumnya. Kemudian membuat interprestasi atau pilihan tafsiran
terhadap karya sastra serta menyusun semua analisis yang telah dilakukan pada
tahap sebelumnya. Tahap aplikasi atau penerapan, segala nilai, ide, wawasan
yang ada pada tahap-tahap yang tadi diinternalisasi dengan baik, sehingga
masyarakat penikmat sastra dapat mewujudkan nilai-nilai sastra tersebut dalam
sikap dan tingkah laku sehari-hari.
Dengan demikian, kegiatan apresiasi
sastra diartikan sebagai suatu proses mengenal, menikmati, memahami, dan
meghargai suatu karya yang ada secara sengaja, sadar, dan kritis sehingga
tumbuh pengertian dan penghargaan
terhadap satra itu sendiri. Misalnya jadi tidak ada cirri khas anak generasi
bangsa yang lebih sering menggunakan bahasa kekinian dibandingkan dengan bahasa
sastra Indonesia. Lalu banyak apresiasi yang di wujudkan dengan cara
penyebarluasan melalui tahap-tahap yang tadi sudah disebutkan. Melalui
pengajaran yang nilainya adil untuk diajarkan bukan untuk sekedar nilai
“klise”. Karna dengan hal seperti ini membuat karya sastra lebih terasa nyata
dan dihargai dimata semua generasi tua dan muda. Dan juga dihargai dimata
global.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar