Rabu, 25 November 2015

Manusia dan Kesustraan , A .Pentingnya Sastra Bagi Generasi Muda

1.     KESUSTRAAN
Kesusastraan berarti karangan yang indah. “sastra” (dari bahasa Sansekerta) artinya : tulisan, karangan. Akan tetapi sekarang pengertian. Sebuah cipta sastra yang indah, bukanlah karena bahasanya yang beralun-alun dan penuh irama. Ia harus dilihat secara keseluruhan: temanya, amanatnya dan strukturnya. Pada nilai-nilai yang terkandung di dalam ciptasastra itu. Maka disimpulkan “kesusastraan” adalah merupakan pengungkapan dari fakta artistik dan imajinatif sebagai manifestasi kehidupan manusia (dan masyarakat) melalui bahasa sebagai medium dan punya efek yang positif terhadap kehidupan manusia (kemanusiaan).  Ada beberapa bentuk kesusastraan :


1.       Puisi
2.       Cerita rakyat (fiksi)
3.       Essay
4.       Kritik
5.       Drama

          Sebuah cipta sastra yang indah, bukanlah karena bahasanya yang beralun-alun dan penuh irama. Ia harus dilihat secara keseluruhan: temanya, amanatnya dan strukturnya. Pada nilai-nilai yang terkandung di dalam ciptasastra itu. Ada beberapa nilai yang harus dimiliki oleh sebuah ciptasastra. Nilai-nilai itu adalah : Nilai-nilai estetika, nilai-nilai moral, dan nilai-nilai yang bersifat konsepsionil. Ketiga nilai tersebut sesungguhnya tidak dapat dipisahkan sama sekali. Sesuatu yang estetis adalah sesuatu yang memiliki nilai-nilai moral. Tidak ada keindahan tanpa moral. Tapi apakah moral itu? Ia bukan hanya semacam sopan santun ataupun etiket belaka. Ia adalah nilai yang berpangkal dari nilai-nilai tentang kemanusiaan. Tentang nilai-nilai yang baik dan buruk yang universil. Demikian juga tentang nilai-nilai yang bersifat konsepsionil itu. Dasarnya adalah juga nilai tentang keindahan yang sekaligus merangkum nilai tentang moral.





A.   Pentingnya  Sastra  bagi  Generasi  Muda
           
Karena sastra merupakan unsur yang sangat penting yang dapat memberikan wajah manusiawi, unsur-unsur keindahan, keselarasan, keseimbangan, perspektif, harmoni, irama, proporsi dan sublimasi dalam setiap gerak kehidupan manusia dalam menciptakan kebudayaan. Dan apabila hal tersebut tercabut dari akar kehidupan manusia, manusia tidak lebih dari hewan yang berakal. Untuk itulah sastra harus ada dan selalu harus diberadakan. Tetapi sangat disayangkan, bangsa Indonesia justru meminggirkan sendiri budaya yang dimilikinya. Padahal sejatinya, kita adalah bangsa berbudaya. Dalam dunia pendidikan, sastra dianggap hafalan belaka oleh remaja yang bersekolah atau oleh siswa serta siswi. Siswa mengenal sastra seperti sangat terpaksa untuk membaca demi mengetahui synopsisnya. Karna mereka hanya mengkhawatirkan nilai yang akan mereka terima atau mereka hanya takut mucul dalam soal ujian. Maka dengan itu mereka mau menghafalnya, padahal cara itu jelas salah. Seharusnya bukan dari siswa maupun siswi tapi dari aspek uru yang mengajarnya sendiri yang harus diubah.

Lalu akibat bagi siswa, sastra hanyalah aktivitas menhafal, mencatat, ujian dan selesai. Metode yang hampir sama dari tahun ke tahun atau dari generasi ke generasi yang mendatang. Sehingga, minat erhadap dunia sastra benar-benar terlintas di bena kebanyakan generasi kita. Fenomena yang seperti ini justru akan memarak pada generasi muda. Di daerah-daerah terutama didaeah pedalaman. Misalnya, dengan sifat yang tertinggal menjadikan pengalaman lamanya tidak bisa diubah atau diluaskan dalam sastra. Walaupun begitu, tak bisa dipungkiri itu juga melanda generasi muda di perkotaan. Misalnya, banyak anak muda jaman sekarang menggunakan bahasa gaul dalam bicara sehari-hari.

Malah kebanyakan yang terpentig dimata guru sekarang ini adalah “Nilai siswa tidak jeek daam pelajaran bahasa Indonesia”. Terkadang hal tersebut memacu siswa hanya untuk menyntek atau sekedar dapat menjawab soal yang berhubungan dengan sastra lalu?Selesai. jawaban yang menakjubkan, bahkan tidak dari generasimuda tetapi juga dari guru yang justru memberikan supply untuk melakukan kerjaan yang tidak seharusnya. Misalnya, terjadi tawuran antar pelajar. Padahal tawuran justry memacu terjadinya kecelakaan dan harus dirawat di rumah sakit apabila kejadiannya menjadi fatal. Sebab, ada kemungkinan kesalahan dalam mendidik dan memberikan metode pendidikan. Yang salah satunya jelas kurangnya pengayaan terkhusus terhadap sastra. Lalu akhirnya menyebabkan hal tawuran itu terjadi. Dan tentu saja merugikan khalayak yang pastinya bukan sekedar meka yang melakukan juga tetapi juga lingkungan di sekitarnya.

Lalu dengan cara apa kita menjadikan satra bagian dari kehidupan sehari-hari. Padahal satra merupakan asset budaya yang seperti halnya sudah dibahas. Sastra adalah kerja otak kanan serta vitamin batin yang membuat halus sikap hidup insane yang benar-benar dimatangkan, akan mampu menumbuhkan sikap yang lebih santun dan beradab. Tentu lain ceritanya jika disekolah lebih mengembangkan sastra kepada siswa dan siswinya. Contoh kecil, misalnya pengemangan berpuisi siswa serta siswi disekolah. Selain keseimbangan olah jiwa, kepekaan terhadap lingkungan yang memiliki unsur keindahan, siswa serta siswi akan semakin mengerti tentang hakikat dan nilai kemanusiaan. Karna berpuisi dapat diambil dari beberapa aspek yang ada didalamnya. Jiwa kemanusiaan akan semakin tebal, maka jiwa-jiwa kekerasan yang ada dalam diri manusia akan tenggelam lalu hilang dengan sendirinya. Sebab, jarang sekali puisi dan ekerasan tampil dalam tubuh kalimat yang sama itu muncul.
           
Dalam aspek tertentu sebenarnya sastra memiliki sisi yang negatif yang kita tidak tahu cara untuk menghadapinya atau bahkan hanya menganggapnya sebelah mata saja. Terkait dengan itu, beberapa hasil penelitian di luar negri menunjukan bahwa dengan berpuisi mampu mengatasi stress, yang notaben peicunya lahir dari kekerasan. Juga dapat member efek relaksasi serta mencegah penyakit jantung atau gangguan pernapasan (Hendrawan Nadesul,Kompas 23/10/04). Maka, tak lagi bisa kita mengelak dengan mengatakan bahwa sastra hanyalah permainan kata-kata. Kata-kata yang dibolak-balik, diakrobatkan, diimajinasikan agar terkesan “ngeh”, indah, dan bersahajabagi siapa saja yang membacanya. Sebab ternyata dari hasil penelitian di atas, sastra mampu menduduki posisi sebagai terapi alternative terhadap beberapa penyakit. Lalu masihkah ada yan menyia-nyiakan?. Lalu dengan cara apa kita mulai bergerak?.
           
Sehingga, menjadi wajar bahwa di sekolah harus ditekankan untuk terus-menerus memberika waktu yang lebih banyak untuk mendalami serta mempelajari siswa serta siswinya dalam berpuisi, cerpen, teater, maupun drama. Sebab , selain untuk menumpuk minat terhadap satra dan mengembangkan imajinasi sebagai penunjang pengetahuan yang lainnya, diharapkan juga nanti mampu melahirkan para budayawan dan sastra terkenal sebagai pengganti dari “pendekar” sastra pilih tanding yang tidak produktif lagi karna usia dan satu persatu telah meninggalkan kita. Hamin Jabar, Muchtar Lubis, dan Pramudya Anata Toer. Misalnya, salah satu yang dapat dilakukan adalah dengan mencari orang yang berpengalaman atau memberikan lowongan kepada senima profersional yang cenderung di mata masyarakat untuk menjadi guru bahasa dan satra Indonesia. Bukan lagi guru bahasa dan sastra Indonesia yang selalu berbasis dan terikat kepada kurikulum pengajaran saja. Sehinggakebanyakan dari mereka mampu mengembangkan minat sastra pada siswa-siswinya. Bisa juga dengan memberikan waktu khusus untuk para seniman. Sastrawan muda juga sebenarnya dapat dihasilkan lalu bisa memberikan pelajaran sastra terhadap siswa maupun siswi lanjutannya. Nah, dengan seperti itu yang harusnya digagas dari sekarang.

Kapan lagi kita akan memulai bahkan mampu untuk melestarikan kesuastraan yang kita iliki. Serta siapa yang akan menggantikan generasi tua nanti. Selain itu kita juga dapat mengapresiasikan suatu sasra dengan cara masing-masing. Apresiasi sastra merupakan salah satu bentuj reaksis secara kinetic dan verbal seorang pembaca terhadap suatu karya satra yang di dengar ataupun di baca. Kata apresiasi berawal dari kata Bahasa Inggris yaitu Appreciation yang artinya penghargaan. Apresiasi sastra berarti penghargaan terhadap suatu karya sastra yang ada. Apresiasi satrsa berusaha menerima karya sastra  sebagai sesuatu yang layak di terima dan diakui nilai-nilai sastranya sebagai suatu yang benar adanya. Penghargaan terhadap suatu karya sastra dilakukan secara 5 tahap yaitu, Tahap mengenal dan menikmati, Tahap menikmati, Tahap mengahargai, Tahap pemahaman, Tahap pengahayatan dan Tahap aplikasi atau penerapan.

Tahap mengenal dan menikmati pada tahap ini, kita berhadapan dengan suatu karya. Kemudian kita mengambil suatu tindakan berupa membaca, melihat atau menonton, dan mendengarkan suatu karya satra. Tahap mengahargai, pada tahap ini kita merasakan manfaat atau nilai karya sastra yang telah dinikmati. Manfaat di sisni berkaitan  dengan kegunaan karya sastra tersebut. Misalnya, member kesenangan, hiburan, kepuasan, serta memperluas wawasan dan pandangan hidupan sastra. Tahap pemahaman, pada tahap ini kita melakukan tindakan meneliti serta menganalisis unsur-unsur yang membangun karya sastra, baik unsur interinsik maupun ekstrinsiknya. Akhirnya kita dapat menyimpulkan karya sastra tersebut. Tahap penghayatan pada tahap ini kita membuat analisis lebih lanjut dari tahap sebelumnya. Kemudian membuat interprestasi atau pilihan tafsiran terhadap karya sastra serta menyusun semua analisis yang telah dilakukan pada tahap sebelumnya. Tahap aplikasi atau penerapan, segala nilai, ide, wawasan yang ada pada tahap-tahap yang tadi diinternalisasi dengan baik, sehingga masyarakat penikmat sastra dapat mewujudkan nilai-nilai sastra tersebut dalam sikap dan tingkah laku sehari-hari.

Dengan demikian, kegiatan apresiasi sastra diartikan sebagai suatu proses mengenal, menikmati, memahami, dan meghargai suatu karya yang ada secara sengaja, sadar, dan kritis sehingga tumbuh pengertian dan  penghargaan terhadap satra itu sendiri. Misalnya jadi tidak ada cirri khas anak generasi bangsa yang lebih sering menggunakan bahasa kekinian dibandingkan dengan bahasa sastra Indonesia. Lalu banyak apresiasi yang di wujudkan dengan cara penyebarluasan melalui tahap-tahap yang tadi sudah disebutkan. Melalui pengajaran yang nilainya adil untuk diajarkan bukan untuk sekedar nilai “klise”. Karna dengan hal seperti ini membuat karya sastra lebih terasa nyata dan dihargai dimata semua generasi tua dan muda. Dan juga dihargai dimata global.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar