Minggu, 29 November 2015

Manusia dan Cinta Kasih , A. Hubungan Ungkapan Kasih Sayang dan Cinta

       MANUSIA DAN CINTA KASIH

A.   HUBUNGAN UNGKAPAN KASIH SAYANG DAN CINTA

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, Balai Pusaka, 1996), Cinta adalah rasa sangat suka (kepada) atau rasa sayang (kepada), ataupun rasa sangat kasih atau sangat tetarik hatinya. Sedangkan kata kasih, artinya perasaan sayang atau cinta (kepada) atau menaruh belas kasihan. Oleh karena itu, cinta kasih dapat diartikan sebagai perasaan suka (sayang) kepada seseorang yang disertai dengan menaruh belas kasihan. Walapun pada dasarnya manusia memliki cinta kasih yang melebih dari pada binatang, tetapi tidak semuanya manusia dapat memberikan cinta kasih yang sama banyaknya. Agar dapat memahami cinbta kasih secara mendalam. Dalam membina gerakan cinta, yang pertama-tama perlu cepat didasari adalah bahwa yang disebut cinta sama sekali bukan nafsu. Pertanyaan tersebut sangat penting khusunya bagi remaja yang tingakh nafsu seksualnya sedang bergejolak, biasanya akan sulit membedakan antar cinta dan nafsu karena kedua hal itu memang sangat berdekatan. Akhirnya akan bermuara dalam perkawinan yang mau tidak mau membawanya pda hubungan seksual.

Pengertian tentang cinta dikemukan juga oleh Dr.Sarlito W.Sarwono dalam majalah sarinah dengan artikel yang berjudul SEGITIGA CINTA. BUKAN CINTA SEGITIGA. Dikatakannya bahwa cinta ideal memiliki tiga unsur, yaitu ketetarikan , keintiman, dan kemersaan. Yang dimaksud dengan keterikatan adalah adanya perasaan untuk hanya bersama dia, segala perioritas untuk dia, tidak mau pergi dengan orang lain kecuali dengan dia. Kalau janji dengan dia harus tepat waktu, atau ada uamg sedikit oleh-oleh hanya untuk dia. Keintiman, yaitu adanya kebiasaan-kebiasaan dan tingkah laku yang menunjukan bahwa antara Anda dan dia sudah tidak ada jarak lagi sehingga panggilan-panggilan formal seperti Bapak, Ibu, Saudara digantikan dengan sekedarnya memanggil nama atau sebutan, seperti sayang. Makan-minum dari satu piring-cangkir tanpa rasa risi, pinjam-meminjam baju, saling memakai uang tanpa rasa berutang, tidak saling menyimpan rahasia, dan lain-lainnya. Kemesraan, yaitu adanya membelai atau dibelai, rasa kangen kalau jauh atau lama tidak ketemu, adanya ucapan-ucapan yang mengungkapan rasa sayang, saling cium, merangkul, dan sabagainya.


A.   HUBUNGAN UNGKAPAN KASIH SAYANG DAN CINTA

Kasih sayang merupakan  konsep yang mengandung arti psikologi yang dalam, agak sulit didenfinsikan dengan untaian kata-kata. Mungkin baru dipahami makna yang jelas apabila konsep tersebut sudah diwujudkan dalam bentuk sikap, tingkah laku, dan perbuatuan manusia terhadap manusia lainnya, Dengan unsur-unsur budaya itu, manusia menilai, merasakan dan menghendaki kasih sayang dalam hidup. Apabila kasih sayang itu tidak atau tidak lagi dibutuhkan sulit diciptakan kedamain diantara manusia, justru kebencian yang merajalela. Kasih sayang bersumber dari  “unsur rasa” dalam diri manusia,ungkapan perasaaan yang diberikan oleh akal,dan realisasikan oleh karsa dalam bentuk tingkah laku dan perbuatan yang bertanggung jawab. Kasih sayang yang dilengkapi dalam tanggung jawab menciptkan keserasian, keseimbangan, dan kedamainan antara sesame manusia, antar manusia dan alam lingkungan, serta antara manusia dan tuhan. Berdasarkan konsep tersebut, kasih sayang dalam arti “perasaan sayang” kepada suatu dapat diartikan:

A.     Cinta kepada Tuhan atau manusia
B.     Seneng atau suka pada alam lingkungan
C.     Belas kasih kepada mahluk tuhan(manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan)

Hubungan kasih sayang terjadi anatara manusia dan manusia,antara manusi dan alam lingkungan, serta antara manusia dan tuhan. Hubungan kasih sayang antara manusia dan manusia digolongkan lagi menjadi kasih sayang orang tua dan kasih anak, kasih sayang pria dengan wanita, dari kasih sayang sesama manusia. Kasih sayang orang tua dengan anak misalnya antara orang tua dan anak terhadap hubungan keluarga yang sangat erat. Hubungan tersebut menjadi dasar timbulnya hubungan kasih sayang antara orang tua orang tua dan anak. Orang tua mempunyai rasa sayang mendalam kepada anak sebagai penerus generasi penerus bangsa. Sedangkan akan berhak memperoleh kasih sayang secara wajar dari orang tua. Orang tua berkewajiban memberi nafkah kepada anak, memelihara dan mendidik anak, serta mengarahkan anak agar mulai menghayati nilai-nilai kehidupan mulai dari lingkungan keluarga hingga lingkungan masyarakat. Orang tua selalu memperhatikan dan mengikuti perkembangan anak sampai dia menjadi dewasa, memenuhi kebutuhan secara wajar.
Kasih sayang pria dengan wanita adalah setelah pria dan wanita mengijak dewasa, wajarlah apabila mereka sama-sama mencari pasangan hidup masing-masing karena perkawinan itu merupakan kebutuhan bagi setiap manusia. Bagi pria maupun wanita yang sudah dewasa saling mencari jodoh menurut kemapuan masing-masing. Dengan criteria masing-masing. Misalnya seorang laki-laki yang sudah dewasa lalu mengarikan seorang wanita dewasa untuk menikah dan menjalani kehidupan bersama. Kasih sayang yang mulai bersemi dihati wanita tersebut yang penuh dengan harapan, menjadi titik awal menuju hari esok yang bahagia. Sedangkan kasih sayang pria dengan wanita tanpa diikuti tanggung jawab, tidak lebih dari cinta palsu yang membangkitkan kebencian. Karna seorang laiki-laki akan menjadi pemimpin dalam keluarga yang sakinah, mawadah, dan warrahmah.
Kasih sayang terhadap lingkungan, misalnya.Seorang menciptkan taman bunga yang indah, dipelihara dan dirawat dengan teliti dan hati-hati. Dirawat sepunuh hati sehingga bunga itu tumbuh dengan indah. Maka secara tidak langsung orang pencinta tanaman bungan tersebut menaruh kasih sayang  yang didasari dari perasaaan senang pada alam lingkungan yang indah. Disamping taman bungannya itu, dibuat sebuah kolam kecil yang ditanami dengan teratai yang sangat indah dan menarik, seoleh menantang orang lalu lalang sambil berkata “lihat kami yang tumbuh bebas dan indah ini dengan perasaan senang disini”. Semoga anda yang melihat kami bergegas untuk melakukan hal yang sama demi kebaikan bersama. Jika melihat alam lingkungan yang tidak tertata atau tidak teratur maka hanya nafsu serakah manusia. Lalu masih adakah kasih sayang selain kebencian?

Kasih sayang manusia kepada Tuhan. Seorang yang taat beribadah akan mematuhi perintah Tuhan dan menjauhi larangan-Nya. Dimana diadakanya secara pengajian,disitu dia hadir. Dimana ada ceramah agama, disitu dia aktif berdialog. Orang taat beragama ini menaruh kasih sayang yang didasari pengabdian kepada Tuhan Sang Pencipta. Karena manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna, sudah sewajarnya manusia mengabdi  dan bersyukur kepada Tuhan-Nya. Lalu mengapa dimana-mana terjadi pengingkaran kepada Tuhan. Bahkan manusia tidak mau tahu dengan Tuhan. Padahal tuhan adalah sang pencipta yang mengusai dan dapat berkehendak apa saja. Sudah sepatuhnya kita sebagai umat untuk menaati perintah-Nya sesusai ajaran agama masing-masing.

Lalu apa hubungan ungkapan kasih sayang dalam cinta yang sebenarnya?. Orang yang dalam dirinya terkait dengan kasih sayang, kehidupannya peniuh gairah, banyak inisiatif, dan selalu kreatif. Bagi seniman misalnya, kasih sayang dituangkan dalam bentuk karya cipta, sehingga dapat kemanusiaan yang terungkap dalam karya cipta. Kasih sayang tidak dapat diabaikan dalam kehidupan manusia. Tanpa kasih sayang kehidupan itu menjadi gersang. Kasih sayang ikut menentukan perkembangan kepribadian dan cara berpikir seseorang. Membangkitkan gairah hidup dan daya kreatif untuk kebahagiaan manusia.

Jika itu yang terjadi, maka cara untuk mengetahui bentuk-bentuk kasih sayang adalah. Bentuk kasih sayang dapat diungkapan dalam bentuk kata-kata atau pertanyaan, bentuk tulisan, bentuk gerakan, atau media lainnya, seperti. Bentuk kata atau pertanyaan. Bentuk tulisan, telegram. Bentuk gerakan seperti gerakan badan dan bentuk media. Dalam kehidupan manusia, apabila ungkapan kasih sayang memudar atau bahkan menghilang dari lubuk hati, serta nilai-nilai kemanusiaan diinjak-injak. Lihat saja banyak contoh yang terjadi dalam kehidupan masyarakat, seperti yang diungkapan dalam pemberitaan media massa: pelanggaran hak asasi manusia, perkosaan terhadap wanita, diskriminasikan rasial dan agama, terror dan pengeboman manusia, ataupun perang dan pemberotakan tiada hentinya.

Ini menunjukan pengorbanan yang tiada tara bagi manusia beradab di abad modern ini. Inikah perbuataan manusia berbudaya yang dibekali dengan perasaan ungkapan kasih sayang sesama manusia oleh Sang Pencipta?. Manusia itu sendiri yang bisa menjawab dan mengetahui jawabannya. Jawabannya bisa kearah yang negatif ataupun arah positif. Misalanya pengorbanan yang dilakukan semata-mata untuk perbuatan dalm mencintai yang sebaik-baiknya. Atau seseorang yang mencintai karna terpaksa. Maka seharusnya mahluk  ciptaannya yang paling sempurna hal yang sebenarnya.

Kasih sayang manusia kepada hewan berarti manusia akan berusaha untuk melestarikan hewan-hewan disekitarnya. Misalnya, burung-burung tetap hidup ceria pohon-pohon, ikan-ikan, disungai dan laut bebas berkembang biak dan dapat dioleh secara teratur, ataupu  binatang-binatang liar diganggu, sehingga tidak berbahaya bagi manusia. Karna dengan hal pemeliharaan tersebut maka sebagai penghuni dalam bumi akan merasakan ketenangan dan kenyamanan. Lalu dengan demikian, manusia maupun hewan dapat menikah kehidupannya masing-masing dalam suasana aman dan tentram. Taman satwa ataupun cagar alam, dapat menjaga kesegaran yang ada dialam sekitar. Apabila manusia merasa senang, suka dan sayang pada benda-benda hasil karya  manusia, manusia akan berusaha agar gedung-gedung terawatt rapi, bersih, dan segar.


Dengan demikian, manusia dapat menikmati benda-benda lingkungan dan lingkungannya sendiri,  Baik sebagai tempat bekerja yang nyaman maupun sebagai objek rekreasi. Misalnya borobudur yang megah itu selain sebagai objek rekreasi, juga sebagai sumber devisa karena dapat menarik turis begitu banyak. Museum selain tempat penyimpanan hasil karya budaya manuisa pada masa lampau juga sebagai objek ilmu pengetahuan. Dapat menjadikan misalnya generasi penerus bangsa yang gemar mengetahui museum. Sebenarnya kata atau ungkapan kasih sayang dalam cinta dapat ditemukan dalam segi. Seperti yang telah dijelaskan. Untuk itu kita sebagai pembaca yang mengerti sudah seharusnya mengerti apa arti sesungguhnya.

Sabtu, 28 November 2015

Manusia dan Kesusaastraan , C. Evolusi Sastra Dalam Nasionalisme diIndonesia

MANUSIA DAN KESUSASTRAAN
C. EVOLUSI SASTRA DALAM NASIONALISME DI INDONESIA

            Karna sastra merupakan bagian dari ciri khas yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Sastra dari tahun ketahun sangat berkembang sangat pesat,bahkan sangat beragam. Perkembangan sastra di Indonesia sangat cepat,dari yang sangat sulit di eja,dimengerti,sampai yang mudah utuk di pelajari dan di mengerti. Sastra untuk sekarang ini sangat diminati oleh orang-orang untuk dibelajari lebih dalam lagi. Bahkan mahasiswa sekarang banyak yang ingin mempelajari lebih banyak lagi macam-macam sastara utuk memperluas pengetahuan mereka. Bahkan di Indonesia seperti di pelosok-pelosok jawa masi banyak yang menggunakan bahasa yang perbeda dengan bahasa Indonesia di kota. Dari situlah sikap-sikap nasionalisme semakin kuat di Indonesia. Sastra akan selalu berkembang dari tahun dulu,sekarang,dan tahun kedepanya nanti.

         Sastra penting sekali untuk perkembangan bangsa Indonesia. Dengan  adanya sastara negri kita Indonesia menjadi negri yg sangat bermakna. Oleh karena itu kita sebagai anak muda Indonesia harus memperkembangkan sastra di negri kita Indonesia ini. Semangat nasionalisme kita harus dikobarkan sebagai orang Indonesia. Kita harus memperkembangkan bahasa sastra kita,memperluas,memperkaya sastra. Nasionalisme dalam sastra juga penting untuk sastra itu sendiri. Jadi nasionalisme dan sastra itu sangat saling melengkapi satu sama lain. Itulah arti dari nasionallisme berbeda tapi satu.

      Nasionallisme bagi kehidupan sangat bermakna bagi hidup manusia. Seringkali kita mengabaikan betapa pentingnya sastra. Banyak sekali yang melalainkan sastra,padahal sangat penting untuk memperkaya bahasa. Sastra adalah bahasa,bahasa adalah kata-kata yang sering digunakan oleg manusia. Nasionalime sikap yang penting dan harus ada di diri manusia agar hidup lebih bermakna. Hargailah sastara negri kita sendiri. Dan tingatkanlah nasional kita sebagai anak muda. Sastra sangat beragam dan kita harus melindunginya.

       Sastra di Indonesia sangatlah kental. Karena merupakan cirri kepribadian bangsa. Apresiasi sastra berarti penghargaan terhadap karya sastra yang ada. Apresiasi sastra berusaha menerima karya sastra sebagai sesuatu  yang  layak  diterima dan diakui nilai-nilai sastranya sebagai sesuatu  yang benar adanya. Penghargaan terhadap suatu karya sastra dilakukan secara 5 tahap yaitu, Tahap mengenal dan menikmati, Tahap menghargai, Tahap pemahaman, Tahap penghayatan, dan Tahap aplikasi atau penerapan. Dengandemikian, kegiatan apresias i sastra diartikan sebagai suatu  proses  mengenal,  menikmati,  memahami,  dan menghargai suatu karya sastra yang ada secara sengaja, sadar, dan kritis sehingga tumbuh pengertian dan penghargaan terhadap sastra itu sendiri. Misalnya jadi tidak ada ciri khas anak generasi bangsa yang lebih sering menggunakan bahasa kekinian dibandingkan dengan bahasa sastra Indonesia.

Semakin kompleksnya aktifitas manusia guna memenuhi kebutuhan hidup, mengakibatkan keberadaan karya sastra di hati masyarakat mulai tersisih dengan era-nya. Segala sesuatu dinilai dari segi ekonomis, menguntungkan atau tidak. Membaca karya sastra mulai dikategorikan sebagai salah satu kegiatan yang tidak produktif dan sia-sia karena hanya mebuang waktu dan tidak menghasilkan keuntungan secara ekonomi. Yang lebih parah, karya sastra hanya dianggap sebagai karya picisan.
Bila kita mengulas sejarah sastra dan perkembangannya, maka dapat dikatakan bahwa sastra berbanding dengan tradisi yang berkembang dalam masyarakat. Nilai-nilai sastra sudah ada sebelum manusia mengenal tulisan. Kebudayaan tersebut sering disebut sebagai kebiasaan "oral" atau lazim disebut sebagai foklor. Ketika manusia mulai mengenal tulisan, maka nilai-nilai tersebut ditulis ke berbagai media (dari lontar, tulang, batu pelepah, kertas, sampai media elektronik- cyber sastra).

Kini media untuk menyampaikan nilai tersebut sudah berkembang dengan pesat, tidak hanya lisan dan tulisan, melainkan sudah melalui perangkat media multi (audio-visual).
Secara definitif, film tidak dapat dikatakan sebagai suatu karya sastra karena media yang digunakan bukan berupa tulisan. Ketika kita sinkronkan dengan teori di atas, perkembangan sastra akan selalu mengikuti perkembangan kebutuhan masyarakat. Ketika masyarakat sudah mulai meninggalkan kebudayaan membaca dan beralih ke multi media, akankah sastra akan mengikutinya?
. Justru itu tergantung pembaawan dari media kita sebagai pengguna. Kalau istilah di dalam IT itu kita brainware. Berati sudah selayaknya kita elakukan revolusi kesastraan yang lebih baik lagi demi nama baik satu bangsa. Sebenarnya, satu masyarakat dalam sebuah bangsa adalah yang menjadi pegang utama ke mana revolusi sastra berjalan.


Ke mana sastra melangkah sesuai dengan apa  yang dilakukan. Bukan sastra yang merevolusikan dirinya atau keberadaannya dimata umum, tetapi justru kita-kita ini. Banyak hal yang justru menyisihkan apa arti sastra dalam peng-evolusiannya,mengapa?. Karena kenyataannya bukan hal yang menjadikan Astra karah lebih baik. Penulis di sini lebih mencondongkan diri untuk merubah pola fikir pribadi dan pembaca nantinya. Seandainya sastra dapat berubah dan merevolusikan dirinya ke aspek yang baik dengan sendiri setidaknya sastra dapat membela diri jika sastra itu seperti saat ini. Sekarang bahasa “gaul’ lebih identik di mata umum. Lebih “ngetrend” katanya. Memalukan tapi cara seperti apa yang seharusnya kita dapat lakukan?. Bukankah sastra merupakan bagian jati diri atau sesuatunya negara kita ini?. Karena seiring berjalannya waktu maka revolusi dinamika yang terjadi pada sastra di Indonesia juga dipengaruhi oleh hal-hal diatas, Cara sastra berevolusi bisa secara lambat ataupun cepat yang jelas pasti. karena perubahannya itu pasti seiring berjalannya waktu. Salah satu sifat sastra adalah dinamis, yang maksudnya itu selaras dan serasi mengikuti perubahan yang ada di sekelilingnya.

Jumat, 27 November 2015

Manusida dan Kesusastraan, B. Hubungan Antara Manusia dengan Sastra



MANUSIA DAN KESUSASTRAAN

    B. HUBUNGAN ANTARA MANUSIA DENGAN SASTRA

Misalnya cirri kebudayaan itu kita letakkan pada sastra dan kita kaitkan pula dengan masyarakat yag menggunakan sastra itu, maka kita dapat mengatakan bahwa nilai suatu sastra itu pada umumnya teretak pada masyarakatnya sendiri. Kesustraan itu pada dasarnya bukan saja mempunyai fungsi dalam masyarakat itu sendiri untuk  mengahadapi apa yang terjadi antara manusia dengan sastra yang ada. Kesuastraan juga mencerminkan dan menyatakan segi-segi yang kadang kuraang jelas terlihat dalam masyarakat. Maksudnya kurang jelas adalah cara mayarakat itu sendiri untuk menghadapi apa yang terjadi diantara manusia atau masyarakat dengan sastra yang ada. Hubungannya adalah karena antara manusia dengan sastra adalah suatu kebudayaan yang mencerminkan budayanya tersebut. Mengapa kita harus menganggapnya dari bagian budaya karena Sastra merupakan seni berbahasa. Yang dimaksud seni dalam seni berbahasa adalah ungkapan yang secara spontan dari perasaan yang mendalam. Sastra adalah ekspresi pikiran yang merupakan gagasan pandangan, ide, perasaan serta pemikiran dalam bahasa.

Sastra merupakan inspirasi kehidupan yang memuat perasaan kemanusiaan yang mendalam dan kebenaran moral dengan sentuhan kesucian, keluasan pandangan, dan bentuk yang mempesona. Kesuastraan sesungguhnya terkait dengan seluruh aspek kehidupan, sehingga terkaitlah judul dalam materi ini, yaiti “Hubungan Antara Manusia Dengan Sastra”. Hanya saja karena sastra memiliki pemakaran yang Nampak semu menjadikan pemaparannya menempuh rekaan imajinasi yang terlalu tinggi. Tetapi, dalam kesemuan itu, sastra merefleksikan fenomena hidup beragam dan juga mendalam, mengikuti cipta rasa karsa penulisannya. Untuk itu memang diperlukan kesiapan seperti, apresiasi, interpretasidan juga analisis. Sehingga dengan itu terwujudah jenis kesuastraan yang rekaan imajinasinya terlihat lebih jelas kaitannya dengan seluruh aspek kehidupan. Seiring berjalannya proses tersebut juga menjadikan kita untuk berekreasi dalam menciptakan karya sastra itu sendiri. Sesungguhnya jika kita lebih mendalami arti sastra dalam kehidupan, maka aan tercipta bangsa yang lebih mengenal jati diri bangsanya sendiri, yakni Indonesia. Tetapi belakangan kali ini kenyataan justru berbeda Bangsa Indonesia justru malah seperti kehilangan jati diri atau kehilangan sastranya, karena banyaknya masyarakat yang tidak perduli atau mengacuhkan nilai sastra dalam kehidupan sebagai huungan diantaranya.
Boulton (lewat Aminuddin,20/12/03) mengungkapkan bahwa karya satra menyajikan nilai-nilai keindahan serta paparan peristiwa yang mampu memberika kepuasan batin pembacanya. Di samping itu, sastra mengandung pandangan yang berhubungan dengan renungan dan kontemplasi batin, dari masalah agama, filsafat, politik, maupun masalah hidup lainnya. Kandungan makna yang kompleks, dan keindahan dalam karya sastra tergambar lewat media kebahasan atau aspek verbal. Berdasarkan uraian tersebut dpat dikemukakan bahwa karya sastra mengandung berbagai unsur yang kompleks, yaitu:
1.      Unsur keindahan
2.      Unsur kontempalif
3.      Unsur-unsur interinsik yang menandai eksistensi karya sastra
4.      Media pemaranya

Selain itu dalam sastra itu sendiri, sekarang sangat amat popular dengan “bahasa gaul”. Sebelum itu kita tahu bahwa sastra adalahbahasa yang indah dan sopan. Tetapi era kini semua orang dalam bermasyarakat lebih sering menggunakan bahasa gaul tersebut salam salah satu pembicaraannya. Jika terus berlanjut, bahasa kita akan terancam punah. Bisa kita ambil sebagai contoh akibat dari hilangnya kebudayaan sastra yaitu tawuran. Tawuyran terjadi biasanya karna hal-hal untuk pembelaan masing-masing dari kubuh itu sendiri. Terjadi karena tidak bisa saling menghargai, awalnya bercanda tetapi berakhir dengan hal yang kita tidak ininkan. Tawuran biasanya terjadi juga karena kesalahan atau konflik salahnya pembicaraan yang tidak pernah selesai, kedua belah pihak yang tidak bisa berbicara baik-baik, sopan, dan santun untuk menyelesaikan apa masalahnya. Banyak kata-kata yang tidak sepantasnya dan amarah yang tidak bisa dikendalikan keluar dari mulut mereka dan akhirnya berujung dengan terancamnya nyawa seseorang.

Peran kita untuk  menjaga bahasa satra bangsa kita bisa dengan banyak hal. Misalnya, dari pemerintah dan juga dari masyarakat itu sendiri. Pemerintah harus lebih memperkenalkan dan mempromosikan kebudayaan-kebudayaan bangsa Indonesia ke Negara-negara yang lain. Bisa lewat iklan, media televise, media radio atau media cetak atau langsung. Membuat pameran-pameran tentang kebudayaan bangsa Indonesia lebih tepanya tentang sastra yang ada di Indonesia. Lalu bisa dengan cara membuat pagelaran kebudayan dalam maupun luar negri. Membiasakan diri kepada masyarakat untuk selalu menggunakan bahasa Indonesia yang benar dalam keseharian. Mengahrgai satu sama lain karena kita sau tanah air. Dan tidak merasa malu dengan apa yang bangsa Indonesia miliki dengan cara mengikuti zaman era masa kini lalu melupakan jati diri suatu bangsa.

Karena hubungan antara manusia dengan sastra dalam bangsa Indonesia sagatlah penting. Sangat erat hubungannya dengan keseharian dalam hidup seharusnya kita malu jika kita termasuk dalam bagian masyarakat yang hanya ingin menikuti zaman tanpa mengenali bangsa kita agar mendunia. Sebenarnya sastra adalah “Sesuatunya Indonesia”. Sesuatu yang dimaksud adalah cirri yang seharusnya menjadi kebanggan tersendiri.tetapi mucullah kekinian sastra. Kekinian sastra Indonesia sendiri belum habis didedah. Andai kekinian itu dapat dimanfaatkan dalam suatu momen yang diam dan tak bergerak. Dan andai saja masa kini bukan berate dapat menjakal pada lingkaran kekinian. Kekinian menjadi proses pembelajaran pada satra makin sempit, maka makin tak terkenal atau makin terabaikan.

Maka sebenarnya, karya sastra sangat bermanfaat bagi kehidupan pribadi maupun  bermasyarakat. Karena karya satra merupakan upaya memberikan kesadaran kepada pembaca tentang kebenaran-kebenaran hidup, walaupun dilukis dalam bentuk fiksi. Karya sastra dapat memberikan kedamaian , kegembiraan, dan kepuasan batin. Karya satra juga dapat dijadikan sebagai pengalaman berkarya, karena siapapun bisa atau dapat menuangkan isi hati serta pikiran dalam sebuah tulisan yang bernilai seni dari sastra tersebut. Dengan ini, maka menjadikan masyarakat atau siapapun jadi lebih berkembang pola pemikirannya.  Mulai dari ia akan membuat seni-seni atau hal yang bersangkutan dengan karya sastra.  Lalu dapat meluaskannya dan dapat mengkritik dari luar, menerima konsep positif atau negatif yang ia sendri terima.

Setelah mengetahui apa yang dimaksud dengan karya sastra, tidak ada salahnya kita mengetahui uga tentang genre(jenis) dalam karya satra itu sendiri. Karya satra dapat digolongkan ke dalam dua kelompok, yakni karya satra imajinatif dan karya satra non imajinatif. Cirri karya satra yang imajinatif adalah karya sastra yang lebih meonjolkan sifat kyayal, megikuti syarat estetika seni dan menggunakan bahasa yang konokatif. Sedangkan cirri kaya satra imajinatif adalah karya sastra tersebu lebih banyak unsur faktanya dari pada khayalnya, lalu cenderung menggunakan bahasa denotative, dan tetap memenuhi syarat estetika seni. Jadi, pengertiannya adalah karya satra merupakan bentuk upaya manusia untuk mengungkapkan gagasan-gagasannya melalui bahasa yang lahir dari perasaa dan pemikirannya. Dari sini kita bisa realisasikan bahwa hubungan anatara manusia dengan sastra itu erat sekali hubungannya untuk keseharian dan masa depan jati diri duatu Bangsa Indonesia tepatnya.

Rabu, 25 November 2015

Manusia dan Kesustraan , A .Pentingnya Sastra Bagi Generasi Muda

1.     KESUSTRAAN
Kesusastraan berarti karangan yang indah. “sastra” (dari bahasa Sansekerta) artinya : tulisan, karangan. Akan tetapi sekarang pengertian. Sebuah cipta sastra yang indah, bukanlah karena bahasanya yang beralun-alun dan penuh irama. Ia harus dilihat secara keseluruhan: temanya, amanatnya dan strukturnya. Pada nilai-nilai yang terkandung di dalam ciptasastra itu. Maka disimpulkan “kesusastraan” adalah merupakan pengungkapan dari fakta artistik dan imajinatif sebagai manifestasi kehidupan manusia (dan masyarakat) melalui bahasa sebagai medium dan punya efek yang positif terhadap kehidupan manusia (kemanusiaan).  Ada beberapa bentuk kesusastraan :


1.       Puisi
2.       Cerita rakyat (fiksi)
3.       Essay
4.       Kritik
5.       Drama

          Sebuah cipta sastra yang indah, bukanlah karena bahasanya yang beralun-alun dan penuh irama. Ia harus dilihat secara keseluruhan: temanya, amanatnya dan strukturnya. Pada nilai-nilai yang terkandung di dalam ciptasastra itu. Ada beberapa nilai yang harus dimiliki oleh sebuah ciptasastra. Nilai-nilai itu adalah : Nilai-nilai estetika, nilai-nilai moral, dan nilai-nilai yang bersifat konsepsionil. Ketiga nilai tersebut sesungguhnya tidak dapat dipisahkan sama sekali. Sesuatu yang estetis adalah sesuatu yang memiliki nilai-nilai moral. Tidak ada keindahan tanpa moral. Tapi apakah moral itu? Ia bukan hanya semacam sopan santun ataupun etiket belaka. Ia adalah nilai yang berpangkal dari nilai-nilai tentang kemanusiaan. Tentang nilai-nilai yang baik dan buruk yang universil. Demikian juga tentang nilai-nilai yang bersifat konsepsionil itu. Dasarnya adalah juga nilai tentang keindahan yang sekaligus merangkum nilai tentang moral.





A.   Pentingnya  Sastra  bagi  Generasi  Muda
           
Karena sastra merupakan unsur yang sangat penting yang dapat memberikan wajah manusiawi, unsur-unsur keindahan, keselarasan, keseimbangan, perspektif, harmoni, irama, proporsi dan sublimasi dalam setiap gerak kehidupan manusia dalam menciptakan kebudayaan. Dan apabila hal tersebut tercabut dari akar kehidupan manusia, manusia tidak lebih dari hewan yang berakal. Untuk itulah sastra harus ada dan selalu harus diberadakan. Tetapi sangat disayangkan, bangsa Indonesia justru meminggirkan sendiri budaya yang dimilikinya. Padahal sejatinya, kita adalah bangsa berbudaya. Dalam dunia pendidikan, sastra dianggap hafalan belaka oleh remaja yang bersekolah atau oleh siswa serta siswi. Siswa mengenal sastra seperti sangat terpaksa untuk membaca demi mengetahui synopsisnya. Karna mereka hanya mengkhawatirkan nilai yang akan mereka terima atau mereka hanya takut mucul dalam soal ujian. Maka dengan itu mereka mau menghafalnya, padahal cara itu jelas salah. Seharusnya bukan dari siswa maupun siswi tapi dari aspek uru yang mengajarnya sendiri yang harus diubah.

Lalu akibat bagi siswa, sastra hanyalah aktivitas menhafal, mencatat, ujian dan selesai. Metode yang hampir sama dari tahun ke tahun atau dari generasi ke generasi yang mendatang. Sehingga, minat erhadap dunia sastra benar-benar terlintas di bena kebanyakan generasi kita. Fenomena yang seperti ini justru akan memarak pada generasi muda. Di daerah-daerah terutama didaeah pedalaman. Misalnya, dengan sifat yang tertinggal menjadikan pengalaman lamanya tidak bisa diubah atau diluaskan dalam sastra. Walaupun begitu, tak bisa dipungkiri itu juga melanda generasi muda di perkotaan. Misalnya, banyak anak muda jaman sekarang menggunakan bahasa gaul dalam bicara sehari-hari.

Malah kebanyakan yang terpentig dimata guru sekarang ini adalah “Nilai siswa tidak jeek daam pelajaran bahasa Indonesia”. Terkadang hal tersebut memacu siswa hanya untuk menyntek atau sekedar dapat menjawab soal yang berhubungan dengan sastra lalu?Selesai. jawaban yang menakjubkan, bahkan tidak dari generasimuda tetapi juga dari guru yang justru memberikan supply untuk melakukan kerjaan yang tidak seharusnya. Misalnya, terjadi tawuran antar pelajar. Padahal tawuran justry memacu terjadinya kecelakaan dan harus dirawat di rumah sakit apabila kejadiannya menjadi fatal. Sebab, ada kemungkinan kesalahan dalam mendidik dan memberikan metode pendidikan. Yang salah satunya jelas kurangnya pengayaan terkhusus terhadap sastra. Lalu akhirnya menyebabkan hal tawuran itu terjadi. Dan tentu saja merugikan khalayak yang pastinya bukan sekedar meka yang melakukan juga tetapi juga lingkungan di sekitarnya.

Lalu dengan cara apa kita menjadikan satra bagian dari kehidupan sehari-hari. Padahal satra merupakan asset budaya yang seperti halnya sudah dibahas. Sastra adalah kerja otak kanan serta vitamin batin yang membuat halus sikap hidup insane yang benar-benar dimatangkan, akan mampu menumbuhkan sikap yang lebih santun dan beradab. Tentu lain ceritanya jika disekolah lebih mengembangkan sastra kepada siswa dan siswinya. Contoh kecil, misalnya pengemangan berpuisi siswa serta siswi disekolah. Selain keseimbangan olah jiwa, kepekaan terhadap lingkungan yang memiliki unsur keindahan, siswa serta siswi akan semakin mengerti tentang hakikat dan nilai kemanusiaan. Karna berpuisi dapat diambil dari beberapa aspek yang ada didalamnya. Jiwa kemanusiaan akan semakin tebal, maka jiwa-jiwa kekerasan yang ada dalam diri manusia akan tenggelam lalu hilang dengan sendirinya. Sebab, jarang sekali puisi dan ekerasan tampil dalam tubuh kalimat yang sama itu muncul.
           
Dalam aspek tertentu sebenarnya sastra memiliki sisi yang negatif yang kita tidak tahu cara untuk menghadapinya atau bahkan hanya menganggapnya sebelah mata saja. Terkait dengan itu, beberapa hasil penelitian di luar negri menunjukan bahwa dengan berpuisi mampu mengatasi stress, yang notaben peicunya lahir dari kekerasan. Juga dapat member efek relaksasi serta mencegah penyakit jantung atau gangguan pernapasan (Hendrawan Nadesul,Kompas 23/10/04). Maka, tak lagi bisa kita mengelak dengan mengatakan bahwa sastra hanyalah permainan kata-kata. Kata-kata yang dibolak-balik, diakrobatkan, diimajinasikan agar terkesan “ngeh”, indah, dan bersahajabagi siapa saja yang membacanya. Sebab ternyata dari hasil penelitian di atas, sastra mampu menduduki posisi sebagai terapi alternative terhadap beberapa penyakit. Lalu masihkah ada yan menyia-nyiakan?. Lalu dengan cara apa kita mulai bergerak?.
           
Sehingga, menjadi wajar bahwa di sekolah harus ditekankan untuk terus-menerus memberika waktu yang lebih banyak untuk mendalami serta mempelajari siswa serta siswinya dalam berpuisi, cerpen, teater, maupun drama. Sebab , selain untuk menumpuk minat terhadap satra dan mengembangkan imajinasi sebagai penunjang pengetahuan yang lainnya, diharapkan juga nanti mampu melahirkan para budayawan dan sastra terkenal sebagai pengganti dari “pendekar” sastra pilih tanding yang tidak produktif lagi karna usia dan satu persatu telah meninggalkan kita. Hamin Jabar, Muchtar Lubis, dan Pramudya Anata Toer. Misalnya, salah satu yang dapat dilakukan adalah dengan mencari orang yang berpengalaman atau memberikan lowongan kepada senima profersional yang cenderung di mata masyarakat untuk menjadi guru bahasa dan satra Indonesia. Bukan lagi guru bahasa dan sastra Indonesia yang selalu berbasis dan terikat kepada kurikulum pengajaran saja. Sehinggakebanyakan dari mereka mampu mengembangkan minat sastra pada siswa-siswinya. Bisa juga dengan memberikan waktu khusus untuk para seniman. Sastrawan muda juga sebenarnya dapat dihasilkan lalu bisa memberikan pelajaran sastra terhadap siswa maupun siswi lanjutannya. Nah, dengan seperti itu yang harusnya digagas dari sekarang.

Kapan lagi kita akan memulai bahkan mampu untuk melestarikan kesuastraan yang kita iliki. Serta siapa yang akan menggantikan generasi tua nanti. Selain itu kita juga dapat mengapresiasikan suatu sasra dengan cara masing-masing. Apresiasi sastra merupakan salah satu bentuj reaksis secara kinetic dan verbal seorang pembaca terhadap suatu karya satra yang di dengar ataupun di baca. Kata apresiasi berawal dari kata Bahasa Inggris yaitu Appreciation yang artinya penghargaan. Apresiasi sastra berarti penghargaan terhadap suatu karya sastra yang ada. Apresiasi satrsa berusaha menerima karya sastra  sebagai sesuatu yang layak di terima dan diakui nilai-nilai sastranya sebagai suatu yang benar adanya. Penghargaan terhadap suatu karya sastra dilakukan secara 5 tahap yaitu, Tahap mengenal dan menikmati, Tahap menikmati, Tahap mengahargai, Tahap pemahaman, Tahap pengahayatan dan Tahap aplikasi atau penerapan.

Tahap mengenal dan menikmati pada tahap ini, kita berhadapan dengan suatu karya. Kemudian kita mengambil suatu tindakan berupa membaca, melihat atau menonton, dan mendengarkan suatu karya satra. Tahap mengahargai, pada tahap ini kita merasakan manfaat atau nilai karya sastra yang telah dinikmati. Manfaat di sisni berkaitan  dengan kegunaan karya sastra tersebut. Misalnya, member kesenangan, hiburan, kepuasan, serta memperluas wawasan dan pandangan hidupan sastra. Tahap pemahaman, pada tahap ini kita melakukan tindakan meneliti serta menganalisis unsur-unsur yang membangun karya sastra, baik unsur interinsik maupun ekstrinsiknya. Akhirnya kita dapat menyimpulkan karya sastra tersebut. Tahap penghayatan pada tahap ini kita membuat analisis lebih lanjut dari tahap sebelumnya. Kemudian membuat interprestasi atau pilihan tafsiran terhadap karya sastra serta menyusun semua analisis yang telah dilakukan pada tahap sebelumnya. Tahap aplikasi atau penerapan, segala nilai, ide, wawasan yang ada pada tahap-tahap yang tadi diinternalisasi dengan baik, sehingga masyarakat penikmat sastra dapat mewujudkan nilai-nilai sastra tersebut dalam sikap dan tingkah laku sehari-hari.

Dengan demikian, kegiatan apresiasi sastra diartikan sebagai suatu proses mengenal, menikmati, memahami, dan meghargai suatu karya yang ada secara sengaja, sadar, dan kritis sehingga tumbuh pengertian dan  penghargaan terhadap satra itu sendiri. Misalnya jadi tidak ada cirri khas anak generasi bangsa yang lebih sering menggunakan bahasa kekinian dibandingkan dengan bahasa sastra Indonesia. Lalu banyak apresiasi yang di wujudkan dengan cara penyebarluasan melalui tahap-tahap yang tadi sudah disebutkan. Melalui pengajaran yang nilainya adil untuk diajarkan bukan untuk sekedar nilai “klise”. Karna dengan hal seperti ini membuat karya sastra lebih terasa nyata dan dihargai dimata semua generasi tua dan muda. Dan juga dihargai dimata global.





Manusia dan Kebudayaan , C Strategi Dalam Upaya Mempertahankan Kebudayaan

MANUSIA DAN KEBUDAYAAN

C .     STRATEGI DALAM UPAYA MEMPERTAHANKAN KEBUDAYAAN

Mempertahankan kebudayaan dapat dilakukan degan berbagai cara, kita sebagai penerus bangsa seharusnya menjadi peran contoh untuk sekitar. Untuk orang yang lebih tua bahkan adik atau orang dibawah kita. Bukan hanya sekedar mencemooh budaya yang kota miliki dengan beranggapan bahwa berbudaya itu ketinggalan zaman. Karena kebanyakan zaman sekarang hanya dapat memulasikan peradaban kebudayaannya. Contohnya jika ada seorang memainkan sebuah musik tradisi di dekat kita, apa yang kita lakukan?, kita menjadikannya bahan pembicaraan dengan yang lain sehingga menjadi bahan tertawaan (hal tersebut lah beberapa kali diperhatikan oleh banyak orang di sekitar lingkungan tempat tinggal). Bagaimanapun kesenian akan punah jika tidak ada penghargaan. Alangkah baiknya jika kita lebih baik diam daripada mencemooh dan menertawakan orang yang sedang asik berkesenian tradisional. Atau justru seharusnya kita belajar untuk mendalami karya tersebut.

Lalu dengan cara mencintai untuk menimbulkan rasa ingin tahu. Maka lebih menghargai. Mungkin kata-kata cinta terlepas dari segala hal agar untuk mendapatkan kemajuan yang lebih baik. Tetapi menurut penulis, mencintai itu bukan berarti hanya dengan basa-basi saja.Contoh para pembaca membaca pasti karna ingin tahu, ingin memahami yang menimbulkan rasa cinta terhadap tanah air. Di negara kita belakangan ini, hati masyarakat yang lebih mengutamakan kemauan dan keinginan. Menjadikan trend bangsa asing untuk berbudaya di dalam bangsa kita. Bagaimana tidak, bila kita melihat pertunjukan Band di tempat kita masing-masing, kita rela berdesak-desakan. Tetapi, bila ada kesenian daerah di tempat yang sama pasti para penonton nya bisa dihitung dengan mata telanjang. Dengan kata lain, tidak gaul, gensi tinggi  itu juga yang jadi alasan.

 Tetapi,dengan hal seperti itu justru menjadikan masyarakat yang menghindar dari budaya. Karena antusias yang berkurang juga jadi alasan untuk tidak mencintai budaya.
Ingatlah, orang lain tidak akan berani mencuri apa yang kita anggap berharga. Lalu kalau dari segi pengetahuan tentang kebudayaan pun kita sangat lemah, bagaimana kita mempertahankannya? Apalagi budaya sangatlah penting karna budaya merupakan cermin Negara kita. Sebagai contoh, Bila orang lain mencuri kain di jemuran di rumah kita, sedangkan kita tidak pernah mengangkat kain dari jemuran itu selama satu minggu. Dan di waktu yang akan datang dia memakai kain tersebut dan kita mengatakan itu milik kita dan dia membantah, kita hanya bisa mencibir, memaki, dan menghujat.

Bukankah itu hal yang tidak di pekerjaan oleh orang yang pintar. Tetapi bila di kain tersebut kita berikan tanda yang spesifik, dan kita mengenal betul bagaimana tandanya, si pencuri tersebut tidak akan bisa berbuat apa-apa. Oleh karena itu, gunakan rasa ingin tahu untuk mengenal kebudayaan bangsa kita. Tetapi rasa ingin tau tidak akan ada kalau tidak ada rasa cinta yang mendasar. Itu sama saja seperti arti kebudayaan kita. Sebagai prioritas atau tanda kepemilikan yang terikat. Bukan sekedar ‘saya tahu’ tapi spesifikasinya 0 besar. Sehingga apa-apa yang terjadi kita hanya bisa mengolok, mencibir, memaki bahkan menghujat. Pantas mereka berani meng-klaim apa yang kita miliki karna mereka tahu bahwa kita hanya sekedar ‘tahu’ bukan memiliki dan mencintai. Mencintai bukan hanya sekedar pasangan atau sanak saudara tapi juga untuk bangsa.

Strategi itu lah yang bisa kita lakukan di tahap awal agar kebudayaan kita tetap terjaga. Seandainya saja cara-cara tersebut bisa kita tanamkan pada diri kita masing-masing pasti, pencurian terhadap kebudayaan bangsa ini pasti tidak ada. Karena cara tersebut menunjukkan kalau kita perduli akan kemajuan kesenian yang ada. Maka kalau saat ini Indonesia mengalami peperangan kebudayaan. Peperangan yang belakangan ini dimenangkan oleh pihak lain karena kita tidak siaga. Peperangan itu meliputi peperangan dengan kebudayaan Asing yang terus-menerus merubah pola pikir mayarakat Indonesia karena mengganggap kebudayaan Asing lebih maju, dan peperangan terhadap pencurian asset-asset kebudayaan Indonesia. Semakin lama kita pasti semakin terpuruk kalau tidak menggunakan strategi untuk kelestarian budaya. Sudah seharusnya kita beralih pikir bahwa kita dapat melakukan lebih baik lagi untuk bangsa Indonesia.

Sebagai bahan perbandingan, kita bisa melihat kesenian (musik) di negara Asing dengan kesenian (musik) di Indonesia. Contohnya di Eropa, mereka memiliki Mozart dan yang lain sebagai pencipta musik klasik yang monoton sebagai musik asli di sana, sedangkan di Indonesia beribu jenis musik aslinya. Dari hal ini terlihat jika dibandingkan, kalau kita masyarakat Indonesia sekarang ini adalah keturunan dari orang-orang kreatif dan yang pintar. Mengapa kita tidak teruskan kekreatifan kita untuk kelangsungan kebudayaan?. Itulah pola pikir masyarakat yang seharusnya kita ubah. Menjadikan hal yang sepele jadi besar. Padahal spesifikasi bukan hanya dari yang kita anggap gampang apalagi sepele.contoh seperti diatas saja dari music kita seperti dijajah secara perlahan?.
Belakangan ini justru modernisasi menyebabkan peradaban manusia ke arah yang lebih maju.Inovasi-inovasi mutakhir yang biasanya ditemukan negara-negara barat kemudian diintroduksikan ke negara berkembang seperti Indonesia. Proses akulturasi menyebabkan perubahan unsur-unsur budaya seperti nilai, norma, kebiasaan, larangan, konvensi, mitos, simbol. Ada pergeseran nilai kebudayaan sehingga cenderung lebih bebas.Untuk menghindari hal-hal negatif akibat akulturasi diperlukan kesadaran diri sendiri dan lingkungan agar dapat menyeleksi mana yang baik dan mana yang buruk. Dan mana yang bisa kita pilih sebagai tempat untuk menyesuaikan apa yang kita punya dan miliki sebagai bangsa. Bukan hanya untuk mencemooh saja.
Bagaimana tidak?, meniru saja hal yang dapat dilakukan generasi. Padahal tanpa sepengetahuan mereka justru bangsa Indonesia adalah bangsa yang sangat berbudaya dan cerdas karna ke kreatifannya. Lalu dengan apa kita dapat berkembang jauh lebih baik?. Maka, yang harus kita lakukan agar membantu mengembangkan budaya  antara lain Ikut berpartisipasi dalam mengembangkan budaya kita sendiri yang lahir sejak dahulu. Berperan serta menjaga dan melindungi kebudayaan yang telah ada sampai saat ini.  Tidak terpengaruh oleh budaya lain dari budaya sendiri. Mengapresiaskannya didalam kehidupan sehari – hari agar patut dicontoh olehmasyarakat luas. Mencintai aneka ragam budaya tanah air dengan sungguh – sungguh.

Selain itu kita juga harus tahu dimana kelemahan bangsa Indonesia serta kelebihan bangsa kita Indonesia. Dengan seperti itu untuk mengarah kearah perbaikan tidak perlu merepotkan letak dimana kekurangan serta kelebihan yang bisa kita manfaatkan. Mengapa tidak?, Indonesia memiliki ragam yang banyak dan dapat kita perluaskan dalam segihal apapun. Dalam asean misalnya, dengan cara perdangan internasional. Kita melihatkan batik sebagai tanda diantara Negara lain yang ada. Membuktikan bahwa batik adalah cirri kami “bangsa serta warga Negara Indonesia”. Lalu mengartisipasikannya bahwa kami bangga, kami memiliki, dan kami akan menjaganya. Dengan seperti itu maka mereka akan segan untuk meng-klaim apa yang menjadi milik kita.


Dalam hal ini kita haus memiliki peluang. Ya,peuang untuk merdeka dalam jajahan secara halus (perlahan). Bukan malah menjadikan bahwa Negara kita dibantu. Dalam kenyataan kita dibodohi secara halus,melalui taktik mereka yang tidak tertebak secara langsung oleh semua warga masyarakat Indonesia.kita bisa menumbuh kembangkan karya-karya seni yang ada misalnya. Menjadikan segala sector untuk menambah perekonomian Negara. Meningkatkan kreatifitas serta inovasi melalui berbagai kegiatan penyuluhan demi generasi penerus yang baik dan dapat dicontoh lagi dikemudia waktu. Melebar luaskan budaya Indonesia melalui semua hal, tetapi dalam aspek yang nilanya positif. Bilapun negatif juga diberi sanggahan tertentu. Inovasi yang menyebarluaskan asset kepemilikan bangsa kita. Menginovasikan nilai pencritaan Negara dimata dunia sehingga nantinya Indonesia dapat lebuh terpandang di mata dunia.


Bukan hanya untuk generasi penerus, seharusnya semua golongan ditekankan dalam menjaga kelestarian suatu kebudayaan. Itu mengapa penulis menulis judul “Strategi dalam upaya mempertahankan kebudayaan”. Supaya dalam semua tingkatan merasa adil atau tidak dibeda-bedakan. Justru dengan adanya gejolak bersama untuk membangun sebuah sikap menjaga suatu kebudayaan yang kita miliki, yang kita rasakan, yang kita juga banggakan. Dari semua kalangan tanpa memandang siapa A,B bahkan C hingga Z. semua harus menjadi satu bagian yang takkan terpisahkan. Untuk membentuk suatu kebijakan yang mebuat Negara lain malu bakan tak akan berani menyanggah Negara kita. Tidak seperti saat ini, kita saja malu memarkan asset-aset Negara. Ya walaupun tidak semua orang memiliki hak untuk itu, hanya sebagian saja yang menganggap bahwasanya budaya mereka tak-akan diklaim.

Selasa, 24 November 2015

Manusia Dan Kebudayaan , B.Peranan Budaya Lokal Dalam Mendukung Budaya Nasional

B.   PERANAN BUDAYA LOKAL DALAM MENDUKUNG BUDAYA NASIOANAL

       
Seluruh dunia mengetahui betapa Indonesia kaya dengan kebudayaannya. Mulai dari bahasa, tari-tarian, sampai kebiasaan ciri khas didaerah yang berbeda-beda. Dengan dadanya keanekaragaman tersebut bangsa Indonesia justru ditantang untuk menjaga serta mempertahankannya. Bangsa Indonesia ditantang pada era globalisasi  yang modern saat ini. Kini nilai-nilai serta budaya dari luar dapat dengan mudah merasuk ke kehidupan berbangsa di Indonesia. Tetapi justru dalam sinilah kita sebagain warga masyarajat memiliki titik kelemahan. Karena dengan semakin bebasnya kebudayaan asing masuk kekhawatiran akan hialngnya kebudayaan dalam Indonesia menjadi hal yang tak terelakkan. Rasa kebersamaan atau solidaritas merupakan suatu wujud nasionalisme yang penting dan harus ditumbuhkan saat masa kini. Rasa kebersamaan dapat memberikan semangat atau spirit yang tangguh bagi masyarakat dan negara untuk terus membangun dan memajukan bangsa termasuk budaya nasional yang ada. Hal ini dapat kita lihat pada saat terjadinya klaim budaya-budaya Indonesia oleh negeri jiran Malaysia.

Pada saat itu secara spontan masyarakat Indonesia muncul rasa kebersamaan atau solidaritasnya untuk membela hak-hak bangsa Indonesia. Rasa kebersamaan ini semestinya harus dapat dirasakan setiap saat dan dimana saja. Sehingga rasa nasionalisme atau cinta tanah air dapat kita wujudkan dan dapat masyarakatnikmati secara adil dan merata. Rasa kebersamaan ini tidak hanya muncul saat terjadi misalnya saat apa yang kita miliki sudah di klaim,  bencana-bencanaalam, keamanan negara yang diganggu, warga negara kita disiksa oleh warga negaranegara lain(pekerja TKW),  tetapi mestinya muncul pada setiap saat dan tempat. Dimana mereka berada dan dalam kondisi aapun sehingga menjadikan hal kebersamaan dalam Negara itu relevan kebiasaan. Masyarakat juga menjadi aman dan tentram karena pejabat politik memiliki rasa solidaritas yang tinggi untuk membelarakyat agar menjadi maju dan hidup bahagia. Pejabat politik juga memiliki rasa kebersamaan dalam menanggulangi kemiskinan, pengangguran dan  kebodohan yang masih banyak dirasakan oleh masyarakat Indonesia. Walaupun kita sudah merdeka selama 64 tahun.

 Tapi masih banyak diantara kita khususnya para kaum muda yang sama sekali belum tertarik untuk dapat memahami betul akan pentingnya sebuah budaya di dalam berkehidupan, bahkan memilih untuk menjadi yang terbelakang dalam memajukan kebudayaannya. Hal ini tentu sangat merugikan bagi perkembangan budaya di Indonesia dimana seharusnya kita semua seharusnya melestarikan dan mengapresiasi budaya yang kita miliki. Banyak faktor yang menyebabkan sulitnya melestarikan kebudayaan di Indonesia. Antara lain, Kurangnya sosialisasi, kurangnya penyelengaraan festival budaya local, hampir tidak adanya forum komunikasi untuk membahas tentang perlunya budaya. Dengan adanya kelemahan apalagi kita sebagai masyarakat sudah mengetahui tentang salah satu fato sulitnya melestarikan budaya kita bisa buat antisipasi dengan cara membuat acara sosialisasi dalam tema budaya. Membuat persatuan sesame masyrakat tanpa memandang ras dalam suatu festival bertema budaya nasional Indonesia. Atau memperluas cakupan nilai berbudaya membuat forum dan mencari gerakan pemersatuan budaya Indonesia.

Suatu nilai bisa dianggap sebagai makna dari budaya jika semua orang dalam sebuah masyarakat memiliki pemahaman yang sama terhadap nilai-nilai tersebut. Menurut Engel, Blackwell dan Miniard (1995) sepuluh sikap dan perilaku yang sangat dipengaruhi oleh budaya yaitu kesadaran diri dan ruang:komunikasi dan bahasa, pakaian dan penampilan, makanan dan kebiasaan makan, waktu dan kesadaran akan waktu,  hubungan keluarga, organisasi dan lembaga pemerintah, nilai dan norma, kepercayaan dan sikap, proses mental dan belajar, dan kebiasaan. Bentuk hubungan antarbudaya dapat terjadi secara asimilasi, akomodasi, akulturasi, dan stratifikasi. Dalam hal ini akulturasi merupakan bentuk hubungan yang terjadi, yaitu bahwa adanya perpaduan budaya antara budaya yang satu dengan budaya yang lainnya. Adanya globalisasi yang menyebabkan modernisasi ditandai dengan peradaban  di segala bidang yang mengacu atau berasal dari barat. Modernisasian merubah pola pikir budaya dan munculnya kemajuan transportasi, telekomunikasi, dan teknologi yang tadinya belum atau belum berkembang. Media komunikasi modern memungkinkan jutaan orang di seluruh dunia berhubungan satu sama lain tanpa memandang jarak serta waku. Penggunaan media-media komunikasi modern mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.

Adapun unsur-unsur budaya yaitu nilai, norma, kebiasaan, larangan, konvensi, mitos, dan simbol. Nilai (values) adalah kepercayaan atau segala sesuatu yang dianggap penting oleh seseorang atau suatu masyarakat, contoh: menghormati orang yang lebih tua. Norma (norms) adalah aturan masyarakat tentang sikap baik dan buruk, contoh: peraturan lalu lintasan. Kebiasaan (custom) adalah berbagai bentuk perilaku dan tindakan yang diterima secara budaya, contoh: perayaan atau tradisi keagamaan seperti pernikahan secara adat. Larangan (mores) adalah berbagai bentuk kebiasaan yang mengandung aspek moral, biasanya berbentuk tindakan yang tidak boleh dilakukan oleh seseorang dalam berkehidupan di suatu masyarakat, contoh: tidak menyetel radio dengan volume besar karna menggangu tetangga. Konvensi (conventions) menggambarkan anjuran atau kebiasaan bagaimana seseorang harus bertindak sehari-hari, contoh: minum kopi dengan gula, memanggil orang tua dengan sebutan mama atau papa bukan nama langsung. Mitos menggambarkan sebuah cerita atau kepercayaan yang mengandung nilai dan idealisme bagi suatu masyarakat, contoh: berbagai cerita rakyat seperti Malin Kundang, dll. Simbol adalah segala sesuatu (benda, warna, konsep) yang memiliki arti penting lainnya, contoh: bendera kuning simbol ada warga yang meninggal.

Modernisasi menyebabkan adanya peradaban manusia ke arah yang lebih maju atau modern. Apapun semakin lama semakin berkembang dengan ditemukannya inovasi-inovasi baru yang muktkhir. Inovasi-inovasi yang biasanya ditemukan oleh negara-negara barat kemudian diintroduksikan ke negara-negara berkembang seperti Indonesia. Lahirnya email, hp, dan internet memudahkan komunikasi di berbagai belahan dunia dan memperkuat interaksi yang ada dalam maupun antarbudaya. Selain itu dapat mempermudah akses manusia dalam efektifitas dan efisienitas melakukan kegiatan. Misalnya dalam segi pembangunan. Contoh, pembangunan infrastruktur seperti lift dan eskalator dapat memudahkan manusia dalam beraktifitas. Dari segi ekonomi dan politik, keberhasilan negara-negara barat dalam mengelola dan mengembangkan negaranya memotivasi Indonesia menerapkan teori yang mereka miliki, sehingga dapat dikatakan sarana studi banding dengan tujuan memajukan bangsa dan menghapus kemiskinan yang ada di Indonesia. Itu segi dalam pengaruh akulturasi dalam modernnisasi.

Kemajuan akan kemodernisasian ternyata menimbulkan dampak negatif dibalik kemudahan yang dirasakan. Mengapa itu dapat terjadi tergantung dari apa saja yang telah kita lakukan sebagai warga masyarakat bangsa Indonesia. Misalnya, media sosial yang telah berperan besar dalam cara orang berkomunikasi dengan satu sama lain. Hanya karna ingin serba cepat masa modern kini. Misalnya hanya untuk bertamu minum kopi, atau sekedar jalan-jalan. Dalam dunia yang dikendalikan oleh teknologi, dan banyak individu yang menjadikan aliran teknologi untuk mempermudah jaringan sosial secara efektif. Untuk memenuhi keinginan serta kemampuan dalam mengirim dan menerima yang lebih cepat, secara langsung. Akhirnya dengan hal tersebut menjadikan perilaku yang konsumtif.

Contohnya Indonesia, hanya mengandalkan kekreatifan atau inovasi sendiri bahkan  jeri payah yang tidak bisa dia peroleh sendiri hanya terima gampang. Apakah ini sebuah evolusi yang negatif?. Mungkin, tapi beberapa hal kemampuan untuk bersosialisasi secara global dapat menjadi positif. Berikut adalah beberapa cara untuk melakukan hal jejaring sosial yang telah mempengaruhi sosialisasi, untuk lebih baik atau lebih buru arahnya. Sementara masih ada orang-orang yang berinteraksi dengan  cara selain tidak tradisional satu sama lain dengan 'cara tradisional' misalnya seperti panggilan kopi atau telepon, hari ini banyak orang lebih cenderung untuk belajar atau menerima berita terbaru tentang satu sama lain melalui jejaring social misalnya, facebook. Banyak orang justru belajar melalui jaringan social media. Entah dari hal pertemanan ataupun kekerabatan persaudaraan. Selain sisi positif, ternyata jejaring sosial juga memiliki sisi negatif. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Masyarakat Internet Indonesia, 58% pengguna jejaring sosial di Indonesia tidak sadar atas dampak negatif yang mungkin mereka alami.  Para pengguna yang tidak sadar tentu saja tidak akan siap menghadapi berbagai dampak negatif yang mungkin dialami. Misalnya pelanggaran hak cipta, menganggap enteng tugas, bersikap konsumtif bukan kreatif, dan lain-lain.

Oleh karena itu hubungan berbudaya sebenarnya dapat dilakukan dan dihubungkan hanya sekedaar  lewat media sosial saja. Sebenarnya kalau  kita menggunakan apa yang sekarang menjadi modernisasi dengan benar pasti hasilnya benar dan baik. Tetapi, jika tidk dengan benar maka hasilnya justru sangat membuat kenegatifan bagi pelakunya sendiri dan orang disekitar masyarakat itu. Hubungan antar budaya juga dapat terjalin apabila diantaranya terdapat keselarasan untuk hidup bersama. Lalu kita sebagai salah satu anak bangsa apa yang dapat kita lakukan?. Apakah hanya menunggu gerakan yang lain?. Mari kita berfikir untuk mengubah pola yang negatif di Indonesia. Misalnya pola konsumtif dengan menjadikan pola produksi. Meningkatkan kinerja positif diantara seluk manusia di masyarakat. Menjadikan perilaku tolong-menolong untuk kebaikan bersama.