MANUSIA DAN KESUSASTRAAN
C. EVOLUSI SASTRA DALAM NASIONALISME DI INDONESIA
Karna sastra merupakan bagian dari ciri khas yang
dimiliki oleh bangsa Indonesia. Sastra dari tahun ketahun sangat berkembang
sangat pesat,bahkan sangat beragam. Perkembangan sastra di Indonesia sangat cepat,dari
yang sangat sulit di eja,dimengerti,sampai yang mudah utuk di pelajari dan di
mengerti. Sastra untuk sekarang ini sangat diminati oleh orang-orang untuk
dibelajari lebih dalam lagi. Bahkan mahasiswa sekarang banyak yang ingin
mempelajari lebih banyak lagi macam-macam sastara utuk memperluas pengetahuan
mereka. Bahkan di Indonesia seperti di pelosok-pelosok jawa masi banyak yang
menggunakan bahasa yang perbeda dengan bahasa Indonesia di kota. Dari situlah
sikap-sikap nasionalisme semakin kuat di Indonesia. Sastra akan selalu
berkembang dari tahun dulu,sekarang,dan tahun kedepanya nanti.
Sastra penting sekali untuk perkembangan
bangsa Indonesia. Dengan adanya sastara
negri kita Indonesia menjadi negri yg sangat bermakna. Oleh karena itu kita sebagai
anak muda Indonesia harus memperkembangkan sastra di negri kita Indonesia ini. Semangat
nasionalisme kita harus dikobarkan sebagai orang Indonesia. Kita harus
memperkembangkan bahasa sastra kita,memperluas,memperkaya sastra. Nasionalisme
dalam sastra juga penting untuk sastra itu sendiri. Jadi nasionalisme dan
sastra itu sangat saling melengkapi satu sama lain. Itulah arti dari
nasionallisme berbeda tapi satu.
Nasionallisme bagi kehidupan sangat bermakna
bagi hidup manusia. Seringkali kita mengabaikan betapa pentingnya sastra. Banyak
sekali yang melalainkan sastra,padahal sangat penting untuk memperkaya bahasa. Sastra
adalah bahasa,bahasa adalah kata-kata yang sering digunakan oleg manusia.
Nasionalime sikap yang penting dan harus ada di diri manusia agar hidup lebih
bermakna. Hargailah
sastara negri kita sendiri. Dan tingatkanlah nasional kita sebagai anak muda. Sastra
sangat beragam dan kita harus melindunginya.
Sastra di Indonesia sangatlah kental. Karena merupakan cirri
kepribadian bangsa. Apresiasi sastra berarti penghargaan terhadap karya sastra
yang ada. Apresiasi sastra berusaha menerima karya sastra sebagai sesuatu yang
layak diterima dan diakui
nilai-nilai sastranya sebagai sesuatu
yang benar adanya. Penghargaan terhadap suatu karya sastra dilakukan
secara 5 tahap yaitu, Tahap mengenal dan menikmati, Tahap menghargai, Tahap pemahaman, Tahap penghayatan, dan Tahap aplikasi
atau penerapan. Dengandemikian, kegiatan apresias i sastra diartikan
sebagai suatu proses mengenal,
menikmati, memahami, dan menghargai suatu karya sastra yang ada
secara sengaja, sadar, dan kritis sehingga tumbuh pengertian dan penghargaan
terhadap sastra itu sendiri. Misalnya jadi tidak ada ciri khas anak generasi
bangsa yang lebih sering menggunakan bahasa kekinian dibandingkan dengan bahasa
sastra Indonesia.
Semakin kompleksnya aktifitas manusia guna memenuhi
kebutuhan hidup, mengakibatkan keberadaan karya sastra di hati masyarakat
mulai tersisih dengan era-nya. Segala sesuatu dinilai dari segi ekonomis, menguntungkan
atau tidak. Membaca karya sastra mulai dikategorikan sebagai salah satu
kegiatan yang tidak produktif dan sia-sia karena hanya mebuang waktu dan tidak
menghasilkan keuntungan secara ekonomi. Yang lebih parah, karya sastra hanya dianggap
sebagai karya picisan.
Bila kita mengulas sejarah sastra dan perkembangannya, maka dapat dikatakan bahwa sastra berbanding dengan tradisi yang berkembang dalam masyarakat. Nilai-nilai sastra sudah ada sebelum manusia mengenal tulisan. Kebudayaan tersebut sering disebut sebagai kebiasaan "oral" atau lazim disebut sebagai foklor. Ketika manusia mulai mengenal tulisan, maka nilai-nilai tersebut ditulis ke berbagai media (dari lontar, tulang, batu pelepah, kertas, sampai media elektronik- cyber sastra).
Bila kita mengulas sejarah sastra dan perkembangannya, maka dapat dikatakan bahwa sastra berbanding dengan tradisi yang berkembang dalam masyarakat. Nilai-nilai sastra sudah ada sebelum manusia mengenal tulisan. Kebudayaan tersebut sering disebut sebagai kebiasaan "oral" atau lazim disebut sebagai foklor. Ketika manusia mulai mengenal tulisan, maka nilai-nilai tersebut ditulis ke berbagai media (dari lontar, tulang, batu pelepah, kertas, sampai media elektronik- cyber sastra).
Kini media untuk menyampaikan nilai tersebut sudah
berkembang dengan pesat, tidak hanya lisan dan tulisan, melainkan sudah melalui
perangkat media multi (audio-visual).
Secara definitif, film tidak dapat dikatakan sebagai suatu karya sastra karena media yang digunakan bukan berupa tulisan. Ketika kita sinkronkan dengan teori di atas, perkembangan sastra akan selalu mengikuti perkembangan kebutuhan masyarakat. Ketika masyarakat sudah mulai meninggalkan kebudayaan membaca dan beralih ke multi media, akankah sastra akan mengikutinya?. Justru itu tergantung pembaawan dari media kita sebagai pengguna. Kalau istilah di dalam IT itu kita brainware. Berati sudah selayaknya kita elakukan revolusi kesastraan yang lebih baik lagi demi nama baik satu bangsa. Sebenarnya, satu masyarakat dalam sebuah bangsa adalah yang menjadi pegang utama ke mana revolusi sastra berjalan.
Secara definitif, film tidak dapat dikatakan sebagai suatu karya sastra karena media yang digunakan bukan berupa tulisan. Ketika kita sinkronkan dengan teori di atas, perkembangan sastra akan selalu mengikuti perkembangan kebutuhan masyarakat. Ketika masyarakat sudah mulai meninggalkan kebudayaan membaca dan beralih ke multi media, akankah sastra akan mengikutinya?. Justru itu tergantung pembaawan dari media kita sebagai pengguna. Kalau istilah di dalam IT itu kita brainware. Berati sudah selayaknya kita elakukan revolusi kesastraan yang lebih baik lagi demi nama baik satu bangsa. Sebenarnya, satu masyarakat dalam sebuah bangsa adalah yang menjadi pegang utama ke mana revolusi sastra berjalan.
Ke mana sastra melangkah sesuai dengan
apa yang dilakukan. Bukan sastra yang
merevolusikan dirinya atau keberadaannya dimata umum, tetapi justru kita-kita
ini. Banyak hal yang justru menyisihkan apa arti sastra dalam peng-evolusiannya,mengapa?.
Karena kenyataannya bukan hal yang menjadikan Astra karah lebih baik. Penulis di
sini lebih mencondongkan diri untuk merubah pola fikir pribadi dan pembaca
nantinya. Seandainya sastra dapat berubah dan merevolusikan dirinya ke aspek
yang baik dengan sendiri setidaknya sastra dapat membela diri jika sastra itu
seperti saat ini. Sekarang bahasa “gaul’ lebih identik di mata umum. Lebih “ngetrend”
katanya. Memalukan tapi cara seperti apa yang seharusnya kita dapat lakukan?. Bukankah
sastra merupakan bagian jati diri atau sesuatunya negara kita ini?. Karena seiring
berjalannya waktu maka revolusi dinamika yang terjadi pada sastra di Indonesia juga
dipengaruhi oleh hal-hal diatas, Cara sastra berevolusi bisa secara lambat
ataupun cepat yang jelas pasti. karena perubahannya itu pasti seiring
berjalannya waktu. Salah satu sifat sastra adalah dinamis,
yang maksudnya itu selaras dan serasi mengikuti perubahan yang ada di
sekelilingnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar