Sabtu, 28 November 2015

Manusia dan Kesusaastraan , C. Evolusi Sastra Dalam Nasionalisme diIndonesia

MANUSIA DAN KESUSASTRAAN
C. EVOLUSI SASTRA DALAM NASIONALISME DI INDONESIA

            Karna sastra merupakan bagian dari ciri khas yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Sastra dari tahun ketahun sangat berkembang sangat pesat,bahkan sangat beragam. Perkembangan sastra di Indonesia sangat cepat,dari yang sangat sulit di eja,dimengerti,sampai yang mudah utuk di pelajari dan di mengerti. Sastra untuk sekarang ini sangat diminati oleh orang-orang untuk dibelajari lebih dalam lagi. Bahkan mahasiswa sekarang banyak yang ingin mempelajari lebih banyak lagi macam-macam sastara utuk memperluas pengetahuan mereka. Bahkan di Indonesia seperti di pelosok-pelosok jawa masi banyak yang menggunakan bahasa yang perbeda dengan bahasa Indonesia di kota. Dari situlah sikap-sikap nasionalisme semakin kuat di Indonesia. Sastra akan selalu berkembang dari tahun dulu,sekarang,dan tahun kedepanya nanti.

         Sastra penting sekali untuk perkembangan bangsa Indonesia. Dengan  adanya sastara negri kita Indonesia menjadi negri yg sangat bermakna. Oleh karena itu kita sebagai anak muda Indonesia harus memperkembangkan sastra di negri kita Indonesia ini. Semangat nasionalisme kita harus dikobarkan sebagai orang Indonesia. Kita harus memperkembangkan bahasa sastra kita,memperluas,memperkaya sastra. Nasionalisme dalam sastra juga penting untuk sastra itu sendiri. Jadi nasionalisme dan sastra itu sangat saling melengkapi satu sama lain. Itulah arti dari nasionallisme berbeda tapi satu.

      Nasionallisme bagi kehidupan sangat bermakna bagi hidup manusia. Seringkali kita mengabaikan betapa pentingnya sastra. Banyak sekali yang melalainkan sastra,padahal sangat penting untuk memperkaya bahasa. Sastra adalah bahasa,bahasa adalah kata-kata yang sering digunakan oleg manusia. Nasionalime sikap yang penting dan harus ada di diri manusia agar hidup lebih bermakna. Hargailah sastara negri kita sendiri. Dan tingatkanlah nasional kita sebagai anak muda. Sastra sangat beragam dan kita harus melindunginya.

       Sastra di Indonesia sangatlah kental. Karena merupakan cirri kepribadian bangsa. Apresiasi sastra berarti penghargaan terhadap karya sastra yang ada. Apresiasi sastra berusaha menerima karya sastra sebagai sesuatu  yang  layak  diterima dan diakui nilai-nilai sastranya sebagai sesuatu  yang benar adanya. Penghargaan terhadap suatu karya sastra dilakukan secara 5 tahap yaitu, Tahap mengenal dan menikmati, Tahap menghargai, Tahap pemahaman, Tahap penghayatan, dan Tahap aplikasi atau penerapan. Dengandemikian, kegiatan apresias i sastra diartikan sebagai suatu  proses  mengenal,  menikmati,  memahami,  dan menghargai suatu karya sastra yang ada secara sengaja, sadar, dan kritis sehingga tumbuh pengertian dan penghargaan terhadap sastra itu sendiri. Misalnya jadi tidak ada ciri khas anak generasi bangsa yang lebih sering menggunakan bahasa kekinian dibandingkan dengan bahasa sastra Indonesia.

Semakin kompleksnya aktifitas manusia guna memenuhi kebutuhan hidup, mengakibatkan keberadaan karya sastra di hati masyarakat mulai tersisih dengan era-nya. Segala sesuatu dinilai dari segi ekonomis, menguntungkan atau tidak. Membaca karya sastra mulai dikategorikan sebagai salah satu kegiatan yang tidak produktif dan sia-sia karena hanya mebuang waktu dan tidak menghasilkan keuntungan secara ekonomi. Yang lebih parah, karya sastra hanya dianggap sebagai karya picisan.
Bila kita mengulas sejarah sastra dan perkembangannya, maka dapat dikatakan bahwa sastra berbanding dengan tradisi yang berkembang dalam masyarakat. Nilai-nilai sastra sudah ada sebelum manusia mengenal tulisan. Kebudayaan tersebut sering disebut sebagai kebiasaan "oral" atau lazim disebut sebagai foklor. Ketika manusia mulai mengenal tulisan, maka nilai-nilai tersebut ditulis ke berbagai media (dari lontar, tulang, batu pelepah, kertas, sampai media elektronik- cyber sastra).

Kini media untuk menyampaikan nilai tersebut sudah berkembang dengan pesat, tidak hanya lisan dan tulisan, melainkan sudah melalui perangkat media multi (audio-visual).
Secara definitif, film tidak dapat dikatakan sebagai suatu karya sastra karena media yang digunakan bukan berupa tulisan. Ketika kita sinkronkan dengan teori di atas, perkembangan sastra akan selalu mengikuti perkembangan kebutuhan masyarakat. Ketika masyarakat sudah mulai meninggalkan kebudayaan membaca dan beralih ke multi media, akankah sastra akan mengikutinya?
. Justru itu tergantung pembaawan dari media kita sebagai pengguna. Kalau istilah di dalam IT itu kita brainware. Berati sudah selayaknya kita elakukan revolusi kesastraan yang lebih baik lagi demi nama baik satu bangsa. Sebenarnya, satu masyarakat dalam sebuah bangsa adalah yang menjadi pegang utama ke mana revolusi sastra berjalan.


Ke mana sastra melangkah sesuai dengan apa  yang dilakukan. Bukan sastra yang merevolusikan dirinya atau keberadaannya dimata umum, tetapi justru kita-kita ini. Banyak hal yang justru menyisihkan apa arti sastra dalam peng-evolusiannya,mengapa?. Karena kenyataannya bukan hal yang menjadikan Astra karah lebih baik. Penulis di sini lebih mencondongkan diri untuk merubah pola fikir pribadi dan pembaca nantinya. Seandainya sastra dapat berubah dan merevolusikan dirinya ke aspek yang baik dengan sendiri setidaknya sastra dapat membela diri jika sastra itu seperti saat ini. Sekarang bahasa “gaul’ lebih identik di mata umum. Lebih “ngetrend” katanya. Memalukan tapi cara seperti apa yang seharusnya kita dapat lakukan?. Bukankah sastra merupakan bagian jati diri atau sesuatunya negara kita ini?. Karena seiring berjalannya waktu maka revolusi dinamika yang terjadi pada sastra di Indonesia juga dipengaruhi oleh hal-hal diatas, Cara sastra berevolusi bisa secara lambat ataupun cepat yang jelas pasti. karena perubahannya itu pasti seiring berjalannya waktu. Salah satu sifat sastra adalah dinamis, yang maksudnya itu selaras dan serasi mengikuti perubahan yang ada di sekelilingnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar