Selasa, 24 November 2015

Manusia Dan Kebudayaan , B.Peranan Budaya Lokal Dalam Mendukung Budaya Nasional

B.   PERANAN BUDAYA LOKAL DALAM MENDUKUNG BUDAYA NASIOANAL

       
Seluruh dunia mengetahui betapa Indonesia kaya dengan kebudayaannya. Mulai dari bahasa, tari-tarian, sampai kebiasaan ciri khas didaerah yang berbeda-beda. Dengan dadanya keanekaragaman tersebut bangsa Indonesia justru ditantang untuk menjaga serta mempertahankannya. Bangsa Indonesia ditantang pada era globalisasi  yang modern saat ini. Kini nilai-nilai serta budaya dari luar dapat dengan mudah merasuk ke kehidupan berbangsa di Indonesia. Tetapi justru dalam sinilah kita sebagain warga masyarajat memiliki titik kelemahan. Karena dengan semakin bebasnya kebudayaan asing masuk kekhawatiran akan hialngnya kebudayaan dalam Indonesia menjadi hal yang tak terelakkan. Rasa kebersamaan atau solidaritas merupakan suatu wujud nasionalisme yang penting dan harus ditumbuhkan saat masa kini. Rasa kebersamaan dapat memberikan semangat atau spirit yang tangguh bagi masyarakat dan negara untuk terus membangun dan memajukan bangsa termasuk budaya nasional yang ada. Hal ini dapat kita lihat pada saat terjadinya klaim budaya-budaya Indonesia oleh negeri jiran Malaysia.

Pada saat itu secara spontan masyarakat Indonesia muncul rasa kebersamaan atau solidaritasnya untuk membela hak-hak bangsa Indonesia. Rasa kebersamaan ini semestinya harus dapat dirasakan setiap saat dan dimana saja. Sehingga rasa nasionalisme atau cinta tanah air dapat kita wujudkan dan dapat masyarakatnikmati secara adil dan merata. Rasa kebersamaan ini tidak hanya muncul saat terjadi misalnya saat apa yang kita miliki sudah di klaim,  bencana-bencanaalam, keamanan negara yang diganggu, warga negara kita disiksa oleh warga negaranegara lain(pekerja TKW),  tetapi mestinya muncul pada setiap saat dan tempat. Dimana mereka berada dan dalam kondisi aapun sehingga menjadikan hal kebersamaan dalam Negara itu relevan kebiasaan. Masyarakat juga menjadi aman dan tentram karena pejabat politik memiliki rasa solidaritas yang tinggi untuk membelarakyat agar menjadi maju dan hidup bahagia. Pejabat politik juga memiliki rasa kebersamaan dalam menanggulangi kemiskinan, pengangguran dan  kebodohan yang masih banyak dirasakan oleh masyarakat Indonesia. Walaupun kita sudah merdeka selama 64 tahun.

 Tapi masih banyak diantara kita khususnya para kaum muda yang sama sekali belum tertarik untuk dapat memahami betul akan pentingnya sebuah budaya di dalam berkehidupan, bahkan memilih untuk menjadi yang terbelakang dalam memajukan kebudayaannya. Hal ini tentu sangat merugikan bagi perkembangan budaya di Indonesia dimana seharusnya kita semua seharusnya melestarikan dan mengapresiasi budaya yang kita miliki. Banyak faktor yang menyebabkan sulitnya melestarikan kebudayaan di Indonesia. Antara lain, Kurangnya sosialisasi, kurangnya penyelengaraan festival budaya local, hampir tidak adanya forum komunikasi untuk membahas tentang perlunya budaya. Dengan adanya kelemahan apalagi kita sebagai masyarakat sudah mengetahui tentang salah satu fato sulitnya melestarikan budaya kita bisa buat antisipasi dengan cara membuat acara sosialisasi dalam tema budaya. Membuat persatuan sesame masyrakat tanpa memandang ras dalam suatu festival bertema budaya nasional Indonesia. Atau memperluas cakupan nilai berbudaya membuat forum dan mencari gerakan pemersatuan budaya Indonesia.

Suatu nilai bisa dianggap sebagai makna dari budaya jika semua orang dalam sebuah masyarakat memiliki pemahaman yang sama terhadap nilai-nilai tersebut. Menurut Engel, Blackwell dan Miniard (1995) sepuluh sikap dan perilaku yang sangat dipengaruhi oleh budaya yaitu kesadaran diri dan ruang:komunikasi dan bahasa, pakaian dan penampilan, makanan dan kebiasaan makan, waktu dan kesadaran akan waktu,  hubungan keluarga, organisasi dan lembaga pemerintah, nilai dan norma, kepercayaan dan sikap, proses mental dan belajar, dan kebiasaan. Bentuk hubungan antarbudaya dapat terjadi secara asimilasi, akomodasi, akulturasi, dan stratifikasi. Dalam hal ini akulturasi merupakan bentuk hubungan yang terjadi, yaitu bahwa adanya perpaduan budaya antara budaya yang satu dengan budaya yang lainnya. Adanya globalisasi yang menyebabkan modernisasi ditandai dengan peradaban  di segala bidang yang mengacu atau berasal dari barat. Modernisasian merubah pola pikir budaya dan munculnya kemajuan transportasi, telekomunikasi, dan teknologi yang tadinya belum atau belum berkembang. Media komunikasi modern memungkinkan jutaan orang di seluruh dunia berhubungan satu sama lain tanpa memandang jarak serta waku. Penggunaan media-media komunikasi modern mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.

Adapun unsur-unsur budaya yaitu nilai, norma, kebiasaan, larangan, konvensi, mitos, dan simbol. Nilai (values) adalah kepercayaan atau segala sesuatu yang dianggap penting oleh seseorang atau suatu masyarakat, contoh: menghormati orang yang lebih tua. Norma (norms) adalah aturan masyarakat tentang sikap baik dan buruk, contoh: peraturan lalu lintasan. Kebiasaan (custom) adalah berbagai bentuk perilaku dan tindakan yang diterima secara budaya, contoh: perayaan atau tradisi keagamaan seperti pernikahan secara adat. Larangan (mores) adalah berbagai bentuk kebiasaan yang mengandung aspek moral, biasanya berbentuk tindakan yang tidak boleh dilakukan oleh seseorang dalam berkehidupan di suatu masyarakat, contoh: tidak menyetel radio dengan volume besar karna menggangu tetangga. Konvensi (conventions) menggambarkan anjuran atau kebiasaan bagaimana seseorang harus bertindak sehari-hari, contoh: minum kopi dengan gula, memanggil orang tua dengan sebutan mama atau papa bukan nama langsung. Mitos menggambarkan sebuah cerita atau kepercayaan yang mengandung nilai dan idealisme bagi suatu masyarakat, contoh: berbagai cerita rakyat seperti Malin Kundang, dll. Simbol adalah segala sesuatu (benda, warna, konsep) yang memiliki arti penting lainnya, contoh: bendera kuning simbol ada warga yang meninggal.

Modernisasi menyebabkan adanya peradaban manusia ke arah yang lebih maju atau modern. Apapun semakin lama semakin berkembang dengan ditemukannya inovasi-inovasi baru yang muktkhir. Inovasi-inovasi yang biasanya ditemukan oleh negara-negara barat kemudian diintroduksikan ke negara-negara berkembang seperti Indonesia. Lahirnya email, hp, dan internet memudahkan komunikasi di berbagai belahan dunia dan memperkuat interaksi yang ada dalam maupun antarbudaya. Selain itu dapat mempermudah akses manusia dalam efektifitas dan efisienitas melakukan kegiatan. Misalnya dalam segi pembangunan. Contoh, pembangunan infrastruktur seperti lift dan eskalator dapat memudahkan manusia dalam beraktifitas. Dari segi ekonomi dan politik, keberhasilan negara-negara barat dalam mengelola dan mengembangkan negaranya memotivasi Indonesia menerapkan teori yang mereka miliki, sehingga dapat dikatakan sarana studi banding dengan tujuan memajukan bangsa dan menghapus kemiskinan yang ada di Indonesia. Itu segi dalam pengaruh akulturasi dalam modernnisasi.

Kemajuan akan kemodernisasian ternyata menimbulkan dampak negatif dibalik kemudahan yang dirasakan. Mengapa itu dapat terjadi tergantung dari apa saja yang telah kita lakukan sebagai warga masyarakat bangsa Indonesia. Misalnya, media sosial yang telah berperan besar dalam cara orang berkomunikasi dengan satu sama lain. Hanya karna ingin serba cepat masa modern kini. Misalnya hanya untuk bertamu minum kopi, atau sekedar jalan-jalan. Dalam dunia yang dikendalikan oleh teknologi, dan banyak individu yang menjadikan aliran teknologi untuk mempermudah jaringan sosial secara efektif. Untuk memenuhi keinginan serta kemampuan dalam mengirim dan menerima yang lebih cepat, secara langsung. Akhirnya dengan hal tersebut menjadikan perilaku yang konsumtif.

Contohnya Indonesia, hanya mengandalkan kekreatifan atau inovasi sendiri bahkan  jeri payah yang tidak bisa dia peroleh sendiri hanya terima gampang. Apakah ini sebuah evolusi yang negatif?. Mungkin, tapi beberapa hal kemampuan untuk bersosialisasi secara global dapat menjadi positif. Berikut adalah beberapa cara untuk melakukan hal jejaring sosial yang telah mempengaruhi sosialisasi, untuk lebih baik atau lebih buru arahnya. Sementara masih ada orang-orang yang berinteraksi dengan  cara selain tidak tradisional satu sama lain dengan 'cara tradisional' misalnya seperti panggilan kopi atau telepon, hari ini banyak orang lebih cenderung untuk belajar atau menerima berita terbaru tentang satu sama lain melalui jejaring social misalnya, facebook. Banyak orang justru belajar melalui jaringan social media. Entah dari hal pertemanan ataupun kekerabatan persaudaraan. Selain sisi positif, ternyata jejaring sosial juga memiliki sisi negatif. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Masyarakat Internet Indonesia, 58% pengguna jejaring sosial di Indonesia tidak sadar atas dampak negatif yang mungkin mereka alami.  Para pengguna yang tidak sadar tentu saja tidak akan siap menghadapi berbagai dampak negatif yang mungkin dialami. Misalnya pelanggaran hak cipta, menganggap enteng tugas, bersikap konsumtif bukan kreatif, dan lain-lain.

Oleh karena itu hubungan berbudaya sebenarnya dapat dilakukan dan dihubungkan hanya sekedaar  lewat media sosial saja. Sebenarnya kalau  kita menggunakan apa yang sekarang menjadi modernisasi dengan benar pasti hasilnya benar dan baik. Tetapi, jika tidk dengan benar maka hasilnya justru sangat membuat kenegatifan bagi pelakunya sendiri dan orang disekitar masyarakat itu. Hubungan antar budaya juga dapat terjalin apabila diantaranya terdapat keselarasan untuk hidup bersama. Lalu kita sebagai salah satu anak bangsa apa yang dapat kita lakukan?. Apakah hanya menunggu gerakan yang lain?. Mari kita berfikir untuk mengubah pola yang negatif di Indonesia. Misalnya pola konsumtif dengan menjadikan pola produksi. Meningkatkan kinerja positif diantara seluk manusia di masyarakat. Menjadikan perilaku tolong-menolong untuk kebaikan bersama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar