B.
PERANAN BUDAYA LOKAL DALAM MENDUKUNG
BUDAYA NASIOANAL
Seluruh dunia mengetahui betapa
Indonesia kaya dengan kebudayaannya. Mulai dari bahasa, tari-tarian, sampai
kebiasaan ciri khas didaerah yang berbeda-beda. Dengan dadanya keanekaragaman
tersebut bangsa Indonesia justru ditantang untuk menjaga serta
mempertahankannya. Bangsa Indonesia ditantang pada era globalisasi yang modern saat ini. Kini nilai-nilai serta
budaya dari luar dapat dengan mudah merasuk ke kehidupan berbangsa di
Indonesia. Tetapi justru dalam sinilah kita sebagain warga masyarajat memiliki
titik kelemahan. Karena dengan semakin bebasnya kebudayaan asing
masuk kekhawatiran akan hialngnya kebudayaan dalam Indonesia menjadi hal
yang tak terelakkan. Rasa kebersamaan atau solidaritas merupakan suatu wujud
nasionalisme yang penting dan harus ditumbuhkan saat masa kini. Rasa
kebersamaan dapat memberikan semangat atau spirit yang tangguh bagi masyarakat
dan negara untuk terus membangun dan memajukan bangsa termasuk budaya nasional
yang ada. Hal ini dapat kita lihat pada saat terjadinya klaim budaya-budaya
Indonesia oleh negeri jiran Malaysia.
Pada saat itu secara spontan
masyarakat Indonesia muncul rasa kebersamaan atau solidaritasnya untuk membela
hak-hak bangsa Indonesia. Rasa kebersamaan ini semestinya harus dapat dirasakan
setiap saat dan dimana saja. Sehingga rasa nasionalisme atau cinta tanah air
dapat kita wujudkan dan dapat masyarakatnikmati secara adil dan merata. Rasa
kebersamaan ini tidak hanya muncul saat terjadi misalnya saat apa yang kita
miliki sudah di klaim,
bencana-bencanaalam, keamanan negara yang diganggu, warga negara kita
disiksa oleh warga negaranegara lain(pekerja TKW), tetapi mestinya muncul pada setiap saat dan
tempat. Dimana mereka berada dan dalam kondisi aapun sehingga menjadikan hal
kebersamaan dalam Negara itu relevan kebiasaan. Masyarakat juga menjadi aman
dan tentram karena pejabat politik memiliki rasa solidaritas yang tinggi untuk
membelarakyat agar menjadi maju dan hidup bahagia. Pejabat politik juga memiliki
rasa kebersamaan dalam menanggulangi kemiskinan, pengangguran dan
kebodohan yang masih banyak dirasakan oleh masyarakat Indonesia. Walaupun
kita sudah merdeka selama 64 tahun.
Tapi masih banyak diantara kita khususnya para
kaum muda yang sama sekali belum tertarik untuk dapat memahami betul akan
pentingnya sebuah budaya di dalam berkehidupan, bahkan memilih untuk menjadi
yang terbelakang dalam memajukan kebudayaannya. Hal ini tentu sangat merugikan
bagi perkembangan budaya di Indonesia dimana seharusnya kita semua seharusnya
melestarikan dan mengapresiasi budaya yang kita miliki. Banyak faktor yang
menyebabkan sulitnya melestarikan kebudayaan di Indonesia. Antara lain,
Kurangnya sosialisasi, kurangnya penyelengaraan festival budaya local, hampir
tidak adanya forum komunikasi untuk membahas tentang perlunya budaya. Dengan
adanya kelemahan apalagi kita sebagai masyarakat sudah mengetahui tentang salah
satu fato sulitnya melestarikan budaya kita bisa buat antisipasi dengan cara
membuat acara sosialisasi dalam tema budaya. Membuat persatuan sesame masyrakat
tanpa memandang ras dalam suatu festival bertema budaya nasional Indonesia.
Atau memperluas cakupan nilai berbudaya membuat forum dan mencari gerakan
pemersatuan budaya Indonesia.
Suatu
nilai bisa dianggap sebagai makna dari budaya jika semua orang dalam sebuah
masyarakat memiliki pemahaman yang sama terhadap nilai-nilai tersebut. Menurut Engel, Blackwell dan Miniard (1995)
sepuluh sikap dan perilaku yang sangat dipengaruhi oleh budaya yaitu kesadaran
diri dan ruang:komunikasi dan bahasa, pakaian dan penampilan, makanan dan
kebiasaan makan, waktu dan kesadaran akan waktu, hubungan keluarga, organisasi dan lembaga
pemerintah, nilai dan norma, kepercayaan dan sikap, proses mental dan belajar,
dan kebiasaan. Bentuk hubungan antarbudaya dapat terjadi secara asimilasi,
akomodasi, akulturasi, dan stratifikasi. Dalam hal ini akulturasi merupakan
bentuk hubungan yang terjadi, yaitu bahwa adanya perpaduan budaya antara budaya
yang satu dengan budaya yang lainnya. Adanya globalisasi yang menyebabkan
modernisasi ditandai dengan peradaban di
segala bidang yang mengacu atau berasal dari barat. Modernisasian merubah pola
pikir budaya dan munculnya kemajuan transportasi, telekomunikasi, dan teknologi
yang tadinya belum atau belum berkembang. Media komunikasi modern memungkinkan
jutaan orang di seluruh dunia berhubungan satu sama lain tanpa memandang jarak
serta waku. Penggunaan media-media komunikasi modern mengalami peningkatan dari
tahun ke tahun.
Adapun unsur-unsur budaya yaitu nilai, norma, kebiasaan,
larangan, konvensi, mitos, dan simbol. Nilai (values) adalah kepercayaan
atau segala sesuatu yang dianggap penting oleh seseorang atau suatu masyarakat,
contoh: menghormati orang yang lebih tua. Norma (norms) adalah aturan
masyarakat tentang sikap baik dan buruk, contoh: peraturan lalu lintasan.
Kebiasaan (custom) adalah berbagai bentuk perilaku dan tindakan yang
diterima secara budaya, contoh: perayaan atau tradisi keagamaan seperti
pernikahan secara adat. Larangan (mores) adalah berbagai bentuk
kebiasaan yang mengandung aspek moral, biasanya berbentuk tindakan yang tidak
boleh dilakukan oleh seseorang dalam berkehidupan di suatu masyarakat, contoh:
tidak menyetel radio dengan volume besar karna menggangu tetangga. Konvensi (conventions)
menggambarkan anjuran atau kebiasaan bagaimana seseorang harus bertindak
sehari-hari, contoh: minum kopi dengan gula, memanggil orang tua dengan sebutan
mama atau papa bukan nama langsung. Mitos menggambarkan sebuah cerita atau
kepercayaan yang mengandung nilai dan idealisme bagi suatu masyarakat, contoh:
berbagai cerita rakyat seperti Malin Kundang, dll. Simbol adalah segala sesuatu
(benda, warna, konsep) yang memiliki arti penting lainnya, contoh: bendera
kuning simbol ada warga yang meninggal.
Modernisasi
menyebabkan adanya peradaban manusia ke arah yang lebih maju atau modern.
Apapun semakin lama semakin berkembang dengan ditemukannya inovasi-inovasi baru
yang muktkhir. Inovasi-inovasi yang biasanya ditemukan oleh negara-negara barat
kemudian diintroduksikan ke negara-negara berkembang seperti Indonesia.
Lahirnya email, hp, dan internet memudahkan komunikasi di berbagai belahan
dunia dan memperkuat interaksi yang ada dalam maupun antarbudaya. Selain itu
dapat mempermudah akses manusia dalam efektifitas dan efisienitas melakukan
kegiatan. Misalnya dalam segi pembangunan. Contoh, pembangunan infrastruktur
seperti lift dan eskalator dapat memudahkan manusia dalam beraktifitas. Dari
segi ekonomi dan politik, keberhasilan negara-negara barat dalam mengelola dan
mengembangkan negaranya memotivasi Indonesia menerapkan teori yang mereka
miliki, sehingga dapat dikatakan sarana studi banding dengan tujuan memajukan
bangsa dan menghapus kemiskinan yang ada di Indonesia. Itu segi dalam pengaruh
akulturasi dalam modernnisasi.
Kemajuan
akan kemodernisasian ternyata menimbulkan dampak negatif dibalik kemudahan yang
dirasakan. Mengapa itu dapat terjadi tergantung dari apa saja yang telah kita
lakukan sebagai warga masyarakat bangsa Indonesia. Misalnya, media sosial yang
telah berperan besar dalam cara orang berkomunikasi dengan satu sama lain.
Hanya karna ingin serba cepat masa modern kini. Misalnya hanya untuk bertamu
minum kopi, atau sekedar jalan-jalan. Dalam dunia yang dikendalikan oleh
teknologi, dan banyak individu yang menjadikan aliran teknologi untuk
mempermudah jaringan sosial secara efektif. Untuk memenuhi keinginan serta
kemampuan dalam mengirim dan menerima yang lebih cepat, secara langsung.
Akhirnya dengan hal tersebut menjadikan perilaku yang konsumtif.
Contohnya Indonesia, hanya mengandalkan kekreatifan
atau inovasi sendiri bahkan jeri payah
yang tidak bisa dia peroleh sendiri hanya terima gampang. Apakah ini sebuah
evolusi yang negatif?. Mungkin, tapi beberapa hal kemampuan untuk bersosialisasi
secara global dapat menjadi positif. Berikut adalah beberapa cara untuk
melakukan hal jejaring sosial yang telah mempengaruhi sosialisasi, untuk lebih
baik atau lebih buru arahnya. Sementara masih ada orang-orang yang berinteraksi
dengan cara selain tidak tradisional
satu sama lain dengan 'cara tradisional' misalnya seperti panggilan kopi atau
telepon, hari ini banyak orang lebih cenderung untuk belajar atau menerima
berita terbaru tentang satu sama lain melalui jejaring social misalnya,
facebook. Banyak orang justru belajar melalui jaringan social media. Entah dari
hal pertemanan ataupun kekerabatan persaudaraan. Selain sisi positif, ternyata
jejaring sosial juga memiliki sisi negatif. Berdasarkan survei yang dilakukan
oleh Masyarakat Internet Indonesia, 58% pengguna jejaring sosial di Indonesia
tidak sadar atas dampak negatif yang mungkin mereka alami. Para pengguna yang tidak sadar tentu saja
tidak akan siap menghadapi berbagai dampak negatif yang mungkin dialami.
Misalnya pelanggaran hak cipta, menganggap enteng tugas, bersikap konsumtif
bukan kreatif, dan lain-lain.
Oleh karena itu hubungan berbudaya sebenarnya dapat
dilakukan dan dihubungkan hanya sekedaar
lewat media sosial saja. Sebenarnya kalau kita menggunakan apa yang sekarang menjadi
modernisasi dengan benar pasti hasilnya benar dan baik. Tetapi, jika tidk
dengan benar maka hasilnya justru sangat membuat kenegatifan bagi pelakunya
sendiri dan orang disekitar masyarakat itu. Hubungan antar budaya juga dapat
terjalin apabila diantaranya terdapat keselarasan untuk hidup bersama. Lalu
kita sebagai salah satu anak bangsa apa yang dapat kita lakukan?. Apakah hanya
menunggu gerakan yang lain?. Mari kita berfikir untuk mengubah pola yang
negatif di Indonesia. Misalnya pola konsumtif dengan menjadikan pola produksi.
Meningkatkan kinerja positif diantara seluk manusia di masyarakat. Menjadikan
perilaku tolong-menolong untuk kebaikan bersama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar